Jakarta, Bimas Islam – Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Abdul Rochman mengungkapkan, dengan penambahan dan perluasan fungsi KUA, maka penyediaan layanannya harus dimaksimalkan, tidak hanya secara manual dan reguler.
“Saya perhatikan fungsi KUA ditambah dan diperluas, lalu karena itu jenis layanannya pun beranak-pinak menembus 60-an. Ini kalau dibiarkan penyediaannya secara manual, reguler, dan biasa, sama saja kita biarkan KUA remuk,” demikian disampaikan Abdul Rochman kepada Tim Bimas Islam, Minggu (21/5/2023).
Pria yang akrab disapa Adung itu mengatakan, Menteri Agama sangat serius menjadikan Revitalisasi KUA sebagai program prioritas, karena KUA merupakan unit terdepan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Jika KUA baik, maka pemerintah secara umum juga akan baik. Tapi kalau layanan KUA mengecewakan, maka jangan salahkan jika masyarakat juga kecewa pada pemerintah. Ini pentingnya KUA,” tandasnya.
Abdul Rochman juga menegaskan, “ada 4 direktorat pada Ditjen Bimas Islam, ada 34 Bidang yang menjalankan fungsi Bimas Islam di provinsi, ada 514 Kankemenag Kabupaten/Kota yang juga menanggung amanat pembinaan masyarakat Islam, maka KUA sebagai UPT dibawah binaan Ditjen Bimas Islam harus mengoptimalkan seluruh perangkat keorganisasian tersebut.”
Jenis layanan KUA yang sedemikian luas merupakan fakta yang harus dihadapi, namun cara menyajikannya di tengah masyarakat adalah tanggung jawab Ditjen Bimas Islam, khususnya Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah beserta seluruh perangkat fungsinya di tingkat Kanwil Kemenag Provinsi dan Kankemenag kabupaten/kota.
Selain Revitalisasi KUA, Menteri Agama pun mendorong transformasi digital sebagai program prioritasnya. “Jadi pikirkan dengan serius agar penyediaan layanan KUA jangan dengan skema itu-itu saja. Jajaki untuk meng-insert pola artificial intelligence (AI) dalam penyediaan layanan sehingga layanan tetap tersedia meskipun SDM terbatas,” tegas Abdul Rochman.
Dengan mengembangkan skema AI diharapkan layanan Konsultasi Syari'ah misalkan dapat terlayani meskipun oleh sistem AI, tidak lagi mengandalkan SDM. "Saya kira Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah harus memberikan porsi besar pada transformasi digital termasuk literasinya jika ingin cita-cita Revitalisasi KUA tercapai dan KUA tidak ditelan arus dunia yang semakin digitalized," ulas Abdul Rochman.
Diketahui, kegiatan Diskusi Publik Rancangan Perubahan Organisasi dan Tata Kerja KUA telah digelar Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah selama tiga hari, 17 hingga 19 Mei 2023 di Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti Bidang Bimas Islam se-Indonesia, perwakilan Seksi Bimas Kankemenag Kabupaten/Kota dan juga Kepala KUA, serta output kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan atas desain organisasi dan tata kerja KUA masa depan yang lebih kompatibel, inklusif, dan agile (lincah).
Wcp/Mr



