Jakarta, Bimas Islam -- Lebih dari 1.000 penghulu se-Indonesia mengikuti pelatihan jurnalistik bertajuk “Penghulu Era Digital, Mengasah Keterampilan Menulis Berita di Website APRI dan Media Sosial”, Kamis (7/11/2024). Acara itu digelar secara daring oleh Biro Keanggotaan, Kepenghuluan, dan Pengembangan SDM (KKPSDM) bekerja sama dengan Biro Humas Pengurus Pusat Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (PP APRI).
Ketua Umum APRI, Madari mengatakan, pelatihan tersebut dihelat agar para penghulu dapat berperan sebagai agen informasi di masyarakat. Menurutnya, di era digital yang terus berkembang, kemampuan menulis dan menyebarkan informasi yang akurat dan menarik menjadi kebutuhan semua kalangan.
“Pelatihan ini bagian dari langkah APRI mengembangkan kompetensi digital penghulu sebagai respons terhadap perkembangan teknologi. Kami juga telah menyusun pelatihan lanjutan, seperti Bimtek penggunaan website, Google Form, pengolahan data Google Sheet, otomatisasi sertifikat digital, desain grafis, konten kreator, hingga kecerdasan buatan (AI),” ujar Madari.
Ke depan, imbuhnya, kegiatan serupa akan terus dilakukan untuk mengembangkan kemampuan para penghulu di tengah perkembangan teknologi.
“Kegiatan ini merupakan upaya APRI meningkatkan kapasitas literasi digital penghulu. Para peserta antusias mengikuti pelatihan, terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam diskusi, praktik bedah tulisan, dan sesi tanya jawab,” ucapnya.
Ketua Tim Humas, Data, dan Informasi (HDI) Ditjen Bimas Islam Kemenag, Sigit Kamseno menjadi narasumber dalam kegiatan itu. Ia membagikan tips menulis berita yang menarik serta teknik-teknik dasar jurnalistik yang mudah diterapkan para penghulu. Materi yang disampaikan meliputi teori dasar jurnalistik, unsur dan anatomi berita, serta etika dalam penulisan berita.
Sigit menjelaskan pentingnya menyesuaikan gaya bahasa dengan kaidah jurnalistik yang mudah dipahami masyarakat umum. Menurutnya, seorang pewarta harus menyampaikan fakta secara obyektif dan ringkas, serta tidak memunculkan penafsiran yang ambigu.
“Dalam konteks jurnalistik, bahasa yang digunakan berbeda dengan tulisan lain seperti artikel, jurnal, atau buku. Memahami kelayakan suatu isu, aktualitas, relevansi, kebaruan, serta beberapa variabel lainnya penting untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas. Selain itu perlu pula memerhatikan aspek logika, etika, dan estetika dari suatu berita," ungkapnya.
Selain itu, Sigit memaparkan unsur-unsur penting dalam anatomi berita, seperti lead yang kuat, penggunaan kalimat aktif, menghindari repetisi, penggunaan kalimat pendek, dan susunan informasi berdasarkan prinsip piramida terbalik. Teknik ini, menurutnya, akan membantu penghulu dalam menyusun berita yang padat, namun tetap informatif dan menarik bagi pembaca.
“Penghulu akan lebih terampil dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat ketika memahami anatomi berita. Dengan bekal tersebut, penghulu bisa mengembangkan peran sebagai agen informasi dan mempublikasikan program kepenghuluan pada masyarakat luas,” tandasnya.
Wcp/Mr



