Jakarta, Bimas Islam -- Karakter berpikir masyarakat terbagi menjadi dua, yaitu berpikir sosial-keagamaan dan berpikir ekonomi. Karenanya, generasi muda mesti mampu menjadi penengah di antara keduanya.
Hal itu disampaikan Komisaris PT Bank Syariah Indonesia (BSI), Arif Rosyid Hasan saat menjadi narasumber pada kegiatan Lokalatih Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah di Jakarta, Selasa (4/7/2023).
“Karakteristik masyarakat kita ada yang berpikir sosial-keagamaan dan ada yang berpikir ekonomi. Keduanya harus bertemu. Karenanya, generasi muda mesti bisa menyatukan hal itu,” terangnya.
Menurut Arif, bonus demografi saat ini menjadi momentum tepat untuk melakukan perubahan pada pengelolaan Ziswaf (Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf).
“Jumlah usia produktif khususnya generasi muda berada di angka enam puluh sekian persen. Artinya, penduduk Indonesia saat ini didominasi generasi muda. Ini momentum tepat generasi muda menjadi aktivis pejuang Ziswaf,” ucapnya.
“Kalau Soekarno mengatakan ‘berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia’, maka Indonesia hari ini punya ratusan ribu pemuda yang harus menjadi agen perubahan. Kalau kita hanya menjadi penonton di tengah arus perubahan yang begitu cepat, maka hal ini sangat disayangkan,” ulas Arif.
Arif mengajak generasi muda mengambil bagian dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
“Diperkirakan tahun 2035 ekonomi negara kita akan kuat. Terhitung hari ini, kita mempunyai kesempatan 12 tahun untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di negeri ini. Ini menjadi tanggung jawab generasi muda sebagai pejuang literasi Ziswaf,” pungkasnya.
Wcp/Mr



