Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas didaulat memberi sambutan dalam bedah buku Prof. Dr. KH.Said Aqil Siradj yang berjudul "Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi". Bedah buku ini digelar secara daring dan merupakan kerjasama Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta dengan Puslitbang Bimas Agama Badan Diklat dan Litbang Kementerian Agama RI.
Buku ini adalah terjemah (ekstraksi) dari karya akademik Prof.Dr.KH.Said Aqil Siroj dan terjemahan atas disertasi beliau di Universitas Ummul Qura, Makkah dengan judul asli "Shillatullah bil Kawn Fit-Tasawwuf al-Falsafi".
"Alhamdulillah, saya sangat berbahagia karena dapat menghadiri acara bedah buku karya monumental guru kita semua Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj yang bertajuk Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi," ujar Gus Menteri di Jakarta, Senin (5/4/2021).
Sebagai seorang santri, diakui Menag, dirinya sangat menikmati gagasan-gagasan Kyai Said yang tertuang dalam buku "Allah dan Alam Semesta Perspektif Tasawuf Falsafi". KH Said berhasil mengetengahkan pemikiran para tokoh sufi revolusioner, mulai dari Ma’ruf al-Karkhi, Abu Sulaiman ad-Darani, Dzunnun al-Misri, Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, al-Junaidi, al-Ghazali, as-Suhrawardi, Abdul Jabbar an-Nifari, Fariduddin al-Aththar, Ibnu al-Faridh, hingga Ibnu ‘Arabi dan Ibnu Sab’in.
"Kita semua mafhum bahwa nama-nama di atas digolongkan oleh para peneliti dalam kategori ulama sufi nazhari (sufi filosofis-teoritis), karena mereka menggabungkan secara bersamaan antara ajaran tasawuf dan teori filsafat dalam pandangan sufistiknya. Dan dari merekalah lahir konsep tentang fana’, ittihad, hulul dan wahdatul wujud," kata Menag.
Bedah buku karya monumental KH Said Aqil Siradj ini menghadirkan dua narasumber. Pertama pakar tasawuf Dr.KH.Lukman Hakim, pengasuh Pondok Pesantren Roudotul Muhibbin Bogor yang juga merupakan pengampu kitab-kitab tasawuf di berbagai masjid di Jabodetabek.
Kedua, Dr. Haidar Bagir, akademisi sekaligus pendiri penerbit Mizan, yang juga sudah cukup lama mendalami isu-isu tasawuf, terutama tasawuf Ibn Arabi, Jalaludin Rumi, dan sufi-sufi falsafi yang diulas dalam buku disertasi Kiai Said.
Ditambahkan Menag buku ini diharapkan bisa menjadi sumber rujukan yang otoritatif tentang tasawuf falsafi bagi masyarakat muslim Indonesia.
"Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, di mana budaya dan gaya hidup masyarakat semakin hedonis dan materialistik, tasawuf tentu sangat relevan untuk diterapkan," tandas Menag.
Menurut Menag konsep dan jalan tasawuf termasuk tasawuf falsafi mengajarkan umat tetang banyak hal, di antaranya tasawuf falsafi mengajarkan tentang pentingya moderasi dan keseimbangan. Seorang sufi nazhari, berhasil menyeimbangkan antara kekuatan rasionalitas dan spiritualitas, antara akal dan hati, antara lelaku ‘amali dan pandangan falsafi.
"Tasawuf falsafi juga mengajarkan tentang pentingnya mem-fana’kan, menafikan dan meluluhlantakkan sifat-sifat tercela yang bersemayam dalam diri, seperti keserakahan, keangkuhan, kesombongan, keputusasaan, merasa paling benar, dan sifat-sifat nasutiyah lainnya," ujarnya.
Tasawuf falsafi, lanjut Menag, mengajarkan tentang pentingnya menghadirkan visi dan misi ketuhanan dalam segenap kehidupan baik kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. "Sekali lagi, saya ucapkan salamat dan terima kasih kepada Kyai Said yang telah mempersembahkan buku berharga ini. Semoga buku ini membawa pencerahan kepada kita semua dan beliau senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan dan dipanjangkan umurnya," sambung Menag.
(kemenag.go.id)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



