Jakarta, bimasislam -- Mengambil latar belakang kondisi keberagamaan di Indonesia yang cenderung lebih didominasi oleh kekuatan media sosial, serta dibarengi pula oleh warna reformasi yang serba terbuka, menuntut seorang Pakar Al Quran di Indonesia, KH. Ahsin Sakho Muhammad, menuangkan gagasannya dalam sebuah karya yang diberi judul Oase Al Quran: Pencerah Kehidupan.
Karya setebal 268 halaman, terbitan Qaf Tahun 2018 ini, merupakan kumpulan tulisan reflektif seorang pengkhidmat Al Quran tanah air yang dimaksudkan sebagai oase, yang memberikan kesejukan, bak hadirnya sumber mata air bagi musafir di tengah panasnya hamparan gurun pasir yang luas terbentang, demikian satu catatan pengantar Ketua Lajnah Pentashih Al Quran Kementerian Agama, Muchlis M Hanafi dalam bahasannya pada acara Bedah Buku “Oase Al Quran” yang diselenggarakan Ditjen Bimas Islam bertempat di Hotel Ibis Harmoni Jakarta, Selasa (25/09).
Muchlis memperkuat pandangannya dengan memberikan komentar yang cukup komprehensif terkait posisi buku yang dikategorikan populer dan tematik tersebut.
“Dari cara penyajiannya Oase adalah karya reflektif qur’ani berupa penangkapan atas lintasan-lintasan ide dan gagasan penulis, yang saya sebut dengan istilah 'qhawaathir'. Tangkapan atas lintasan ide ini kemudian menjadi sangat berharga, karena oleh penulis direfleksikan ke dalam bahasa tulisan yang begitu ringan dan sederhana, sehingga tidak mustahil menjadi sasaran para pembaca popular khususnya bagi kalangan generasi milenial,” ungkap Muchlis.
Kontribusi Oase Al Quran seperti maknanya yang memberikan kesejukan, kenyamanan bagi pembaca, menurut Muchlis seakan hadir ditengah hirup pikuknya kehidupan masyarakat yang menonjolkan sikap ektrimisme atau kekerasan maupun yang serba material, sehingga diharapkan dapat menjadi gerbang pembuka bagi bangkitnya tradisi literasi Al Quran di tengah masyarakat.
“Konteks hadirnya buku ini saya kira sangat tepat, terutama ditengah kondisi rendahnya tradisi literasi di Indonesia, dan kita sama-sama berharap agar karya berharga dari sosok yang faqih bil quran ini dapat membuka gerbang literasi kealquranan yang sifatnya tak berhenti pada melek baca Al Quran saja, tapi juga pada arti kemampuan seseorang dalam mengolah informasi pengetahuan yang bertujuan mengelola kehidupan," pungkas Doktor yang bersama penulis menjadi Anggota Dewan Pakar Pusat Studi Al Quran ini.
Mengakhiri momen bedah buku, yang dihadiri oleh 55 orang pegiat kajian Al Quran dari unsur perguruan tinggi Islam, Balitbang Kementerian Agama, Peneliti, hingga Penerbit Islam ini, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Juraidi menyampaikan apresiasinya kepada penulis dan pembahas atas kesediaannya menyukseskan program bedah buku sebagai penguatan budaya kepustakaan Islam di Indonesia.
“Kegiatan bedah buku ini adalah salah satu ikhtiar Ditjen Bimas Islam kementerian Agama dalam melakukan penguatan basis bagi berkembangnya budaya pustaka Islam di masyarakat, dan khusus kepada penulis serta pembahas, juga para peserta yang hadir kami sampaikan terimakasih dan apresiasi yang tinggi, semoga bersama Oase Al Quran kita benar-benar mendapatkan pencerahan lahir maupun batin yang dapat mengiringi setiap langkah kehidupan hari ini hingga di masa kelak,” tutup Juraidi.
Penulis :Syafaat
Editor :Syafaat
Foto :Bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



