Cilegon, bimasislam—Sebagai kota industri, Kota Cilegon telah banyak berubah wajah. Bukan sekedar kota modern, puluhan industri juga banyak berdampak pada perubahan sosial di masyarakat. Selain diserbu para pendatang yang hendak bekerja, Kota ini juga tak bisa terpisahkan dari urbanisasi pemikiran yang menyebabkan banyak perubahan. Tak ayal, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penyuluh agama Islam.
Pagi itu di Kecamatan Ciwandan. Nampak jejeran kendaraan berat tengah mengantri untuk memasuki daerah insutri Cilegon. Hampir setiap hari, hiruk pikuk bisnis tak pernah sepi. bimasislam berkesempatan mengikuti para penyuluh yang tengah beraktifitas melakukan penyuluhan. Terletak di KUA Ciwandan, para penyuluh nampak asik menyimak diskusi hangat tentang dakwah di wilayahnya.
Selain bertugas melakukan penyuluhan di masjid, majlis taklim dan perkantoran, para penyuluh di Kecamatan Ciwandan juga terlibat aktif dalam kursuscalon pengantin(suscatin). Adalah Sujai, sekretaris Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kota Cilegon, memaparkan peran penyuluh dalam suscatin ini. Menurutnya, kemampuan ceramah dan wawasan keagamaan menjadi alasannya.
“Kami bantu penghulu di beberapa KUA, khususnya di waktu-waktu sibuk, misalnya bulan syawal atau nanti musim haji. Ini bentuk kemitraan antara KUA penyuluh,” ujarnya.
Sujai menambahkan, seiring dengan industrialisasi, angka perceraian mulai menandakan angka yang mengkhawatirkan. Selain dorongan budaya yang ditimbulkan dari industrialsiasi, arus informasi yang tanpa disaring juga berkontribusi terhadap angka perceraian. Karena itulah, ia dan para penyuluh lainnya giat memasukan materi ketahanan keluarga dalam berbagai kegiatan penyuluhan.
Peran Majlis Taklim
Peran majlis taklim dalam dakwah masyarakat Cilegon tak bisa dipisahkan begitu saja. Sebagai kota dengan deretan sejarah keislaman Banten, Cilegon juga memiliki majlsi taklim yang tersbear di kampung-kampung. Eksistensinya bukan sekedar di musim pilkada, namun telah tertata secara baik.
Seperti nampak di Kecamatan Cibeber. Sejak diberlakukan rekrutmen terbuka penyuluh agama Islam honorer tahun 2016 lalu, kini sebanyak delapan orang telah ditempatkan di tiap-tiap kecamatan. Penambahan personil ini juga diikuti penguatan kapasitas para penyuluh, terutama melalui kegiatan informal, seperti pengajian dan rapat koordinasi. Budaya inilah yang biasa dilakukan oleh para penyuluh, bermitra dengan instansi terkait.
“Kota Cilegon ini terdiri dari delapan kecamatan. Alhamdulillah kami rutin berkoordinasi setiap bulan dalam rangka memantapkan program penyuluhan. Dan majlis taklim adalah institusi yang kami beri perhatian lebih untuk diberdayakan” Sujai menambahkan.
Sujai melanjutkan, baik Kementeerian Agama maupun Pemkot Cilegon, telah membangun kerjasama yang baik dalam pemberdayaan majlis taklim. Bukan hanya pelaitihan, kegiatan keagamaan juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
(Sigit Kamseno-Jaja Zarkasyi/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



