Kota Tegal, Bimas Islam --- Penyuluh Agama Islam Kemenag, Darsiti sudah menjalani masa lima tahun dalam mendidik kaum marginal di Terminal Kota Tegal, Jawa Tengah. Binaan Darsiti disatukan dalam wadah Taman Baca Masyarakat (TBM) Sakila Kerti yang didirikan oleh Doktor Ekonomi Universitas Negeri Semarang, Yusqon.
Meski berperan sebagai pengajar, Darsiti justru mengaku mendapatkan banyak inspirasi dan motivasi. Darsiti belajar teguh pada binaan yang merupakan pedagang asongan dan kau marginal di Kota Bahari itu.
"Saya punya 20-an kelompok binaan. Tapi di terminal ini yang paling saya rasakan manfaatnya. Saya belajar kokoh, sabar, dan syukur dalam menjalani hidup dari ibu-ibu ini," ungkap Darsiti dengan nada teduh.
Pelajaran hidup itu pula yang membuat Darsiti tidak pernah merasa bosan. Padahal, Magister UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini harus menempuh perjalanan 80 kilometer pulang pergi dari rumahnya ke Terminal Kota Tegal.
Pengabdian untuk Kedua Orang Tua
Darsiti menjalani hari-hari di Sakila Kerti dengan riang. Sukarnya para binaan dalam menerima pelajaran tak pernah membuat dirinya putus asa.
"Kalau mengajar dan mereka tidak kunjung paham, saya tidak pernah marah. Justru saya tertawa dan memotivasi mereka," katanya seraya tertawa kecil.
Selain itu, Darsiti juga berharap agar karyanya ini menjadi aliran saldo kebaikan untuk kedua orang tuanya yang telah tiada. Pasalnya, orang tua telah memberikan pendidikan terbaik bagi dirinya meski selama hidup mengalami kekurangan ekonomi.
"Saya disekolahkan oleh orang tua hingga seperti ini. Saat mengajar, berharap pahalanya mengalir sampai ke kubur ayah dan ibu saya," ujarnya penuh harap.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



