Klaten, Bimas Islam --- Menjumpai sebagian masyarakat di daerahnya rentan terpengaruh praktik tuna susila, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Pedan, Septi Setyaningsih tidak berpangku tangan. Berbekal cinta kepada sesama dan daerah asalnya, Septi menginisiasi majelis taklim khusus untuk ibu-ibu.
"Kita bentuk Majelis Taklim Al-Hidayah, markasnya di Musala Al-Hidayah Desa Sobayan, Kecamatan Pedan. Kegiatannya sekali setiap pekan," ungkap Septi melalui pesan tertulis kepada bimasislam, Senin (20/12/21).
Kegiatan pembinaan yang dilaksanakan Septi dilangsungkan setiap Rabu setelah salat Asar. Septi secara rutin mengajarkan cara ibadah, baca tulis Al-Qur'an, dan akhlak sehari-hari.
"Mengajar dengan pelan-pelan, dengan cinta. Saat awal mengaji, banyak ibu-ibu yang belum mengenakan kerudung," tambahnya.
Perlahan, Septi menyampaikan ajaran Islam tentang cara berpakaian hingga warga binaan terbiasa menutup aurat. "Alhamdulillah, kini sudah mulai terbiasa," tambahnya, sumringah.
Terkait praktik tuna susila yang dijumpai di desanya itu, Septi berharap ada solusi terbaik dari pemegang kebijakan. Wanita ini berkeinginan membentengi warga asli agar bisa hidup baik dan layak sebagaimana warga pada umumnya.
"Ingin menjaga masyarakat dengan mendakwahi warga asli hingga menjadi benteng dari praktik tuna susila. Semoga kelak berpengaruh bagi anak-anaknya agar tidak terjerumus dalam praktik tuna susila," harap lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyyah Klaten ini.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



