Jakarta, Bimas Islam -- Kepala Subdirektorat Lembaga Tilawah dan Musabaqah Alquran dan Alhadist, Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty memaparkan poin penting dalam program pengiriman imam masjid ke Uni Emirat Arab (UEA).
“Poin penting yang perlu diperhatikan oleh calon imam yang akan kita kirim ke UEA adalah perlu mendalami wawasan moderasi beragama,” ujarnya dalam program OBSESI (Ngobrol se-jam Soal Islam) yang disiarkan di kanal YouTube Bimas Islam TV, Senin (8/5/2023).
Menurut Rijal, calon imam yang mendapat kesempatan besar ini harus memiliki wawasan moderasi beragama, sehingga dapat hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ditemui di UEA.
Lebih lanjut ia mengatakan, calon imam harus memahami, kemampuan bacaan al-Quran dan kekuatan hafalan merupakan poin penting dan standar yang ditetapkan Kemenag.
“Penguatan hafalan sangat penting karena menjadi dasar kita mengirimkan imam ke UEA. Karenanya, calon imam harus lebih memantapkan bacaannya dan rutin untuk murajaah,” terang Rijal.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Jam’iyyatul Qurra Wal Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama, Saefullah Ma’sum juga menambahkan, diperlukan penguasaan bahasa Arab bagi calon imam.
“Pengalaman kami selama ini ketika menguji calon imam, biasanya yang lemah itu ada pada kemampuan bahasa Arab. Karenanya, kesempatan ini harus direspon dengan cara menyiapkan kemampuan bahasa Arab yang baik,” tuturnya.
Terakhir, Saefullah Ma’sum berharap agar calon imam yang akan diberangkatkan bisa menjadi duta wajah Islam Indonesia yang mengembangkan prinsip Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.
Wcp/Mr



