Tapanuli Utara, Bimas Islam --- Bedug Subuh baru ditabuh. Lingkungan sekitar masih dalam suasana gelap. Namun, Penyuluh Agama Islam di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Dahlan Gulton sudah beranjak melakukan penyuluhan. Bersama rekan-rekan sesama penyuluh lainnya, Dahlan menjalankan program Safari MIS (Maghrib, Isya, Subuh).
"Kami mendatangi masjid-masjid yang letaknya jauh dari kecamatan. Biasanya kami sasar masjid yang jamaahnya belum istikamah mendirikan salat Maghrib, Isya dan Subuh berjamaah. Penyuluhan dirangkai dalam kegiatan salat berjamaah, ceramah, dan pelajaran praktik salat khusus mualaf," ungkap Dahlan kepada Bimas Islam, Jum'at (26/2/21).
Program Safari MIS ini, lanjut Dahlan, merupakan kolaborasi antara Penyuluh Agama Islam non-PNS dan PNS, Kepala KUA dan staf di lingkungan Kantor Kementerian Agama Tapanuli Utara dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Pangaribuan. Tak hanya mengajarkan terkait fikih ibadah, para penyuluh juga menyampaikan ajaran Islam tentang kerukunan antar umat beragama.
"Di sini kami rukun bersama nonmuslim, hidup berdampingan. Saat melakukan penyuluhan, kami juga menyampaikan ajaran-ajaran Islam tentang kerukunan dan itu merupakan bagian dari cara mensyukuri nikmat keberagaman," tambah Dahlan.
Dalam melakukan penyuluhan, Dahlan mengaku mendapatkan hambatan yang dia sebut sebagai tantangan. Dahlan bertutur, masyarakat sekitar masih lebih mengutamakan adat.
"Butuh perjuangan untuk mengajak saudara Muslim ke majelis taklim dan memakmurkan masjid. Masih banyak jamaah yang lebih mengutamakan adat berupa pesta," pungkasnya.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



