Jakarta, Bimas Islam --- Pandemi Covid-19 memasuki tahun kedua. Kasus terkonfirmasi positif di Indonesia semakin mengalami lonjakan tinggi, bahkan banyak negara yang juga mengalami lonjakan serta mutasi dan memiliki banyak varian yang berpotensi menular sangat cepat, salah satunya varian Delta dari India.
Hidup berdampingan virus yang tidak bisa dianggap enteng ini, memerlukan sikap dan perilaku yang berbeda. Kita dipaksa hidup dengan cara baru, bukan hanya patuh terhadap aturan, tapi penerapan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi sebuah kebutuhan dan kewajiban di masa pandemi.
Menghadapi situasi yang tidak nyaman ini, kita tidak bisa melupakan banyak perempuan yang menunjukkan kiprah luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan dalam upaya penanganan Covid-19.
Perempuan menjadi segmen terbesar dari masyarakat yang terdampak Covid-19, mereka menghadapi banyak tantangan besar di masa pandemi Covid-19 ini.
Rita Audriyanti dengan sangat ciamik mengoordinasi pesan dan pengalaman perempuan dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19, dalam sebuah buku antologi yang berjudul Perempuan Indonesia dan Covid-19.
Prespektif para perempuan dalam buku ini sangat penting untuk diperhatikan. Berbagai tantangan dan perjuangan di balik pandemi Covid-19, kesedihan kehilangan anggota keluarganya, dan strategi kreatif untuk bertahan ditengah badai pandemi, serta ketegaran mereka menyampaikan pesan di balik kesedihan dan kesulitan, ada keberkahan dan kemudahan yang menyertai.
Tidak hanya itu, kumpulan cerita ini merupakan pengalaman dan kisah nyata dari 25 orang perempuan, yang berada di lokasi yang berbeda di beberapa negara dan benua, mereka menuangkan berbagai pengalaman dari berbagai prespektif, dan menggambarkan berbagai budaya suatu negara dalam berjuang menghadapi Covid-19.
Salah satu penulis dalam antologi itu, Nur Rahmawati yang akrab disapa Enung adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama, bercerita bagaimana ia menghadapi situasi yang amat sulit, pada saat yang sama kakak perempuannya dilantik kenaikan jabatan, beberapa jam kemudian ayahnya wafat karena terinfeksi Covid-19.
Sebulan sebelumnya, Enung juga harus merelakan kakak iparnya, atau suami dari kakak perempuannya yang dilantik itu juga meninggal dunia akibat terinfeksi Covid-19.
Tidak hanya itu, Enung kembali harus menelan kenyataan pahit, salah satu sahabatnya juga meninggal akibat Covid-19. Karena tingginya kontak erat dengan orang yang terinfeksi Covid-19, hasil tes swab PCR Enung dinyatakan positif. Pada kondisi yang sangat sulit itu, Enung berusaha tenang dan menerima keadaan, ia meyakini bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan semua yang terjadi adalah suratan takdir dari Allah.
Saya jadi teringat dengan kalimat temen saya, bahwa hidup di masa pandemi Covid-19 hanya tinggal menunggu giliran untuk terinfeksi, begitu juga dengan kematian, semua sudah diatur oleh Allah.
Apalagi melihat lonjakan kasus positif Covid-19 saat ini sangat tinggi hingga mencapai 92 persen dalam empat pekan terakhir. Kenaikan kasus tertinggi terjadi di Provinsi DKI Jakarta dengan persentasi sebanyak 387 persen yakni 20.634 kasus. Oleh karena itu, kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan harus terus ditingkatkan.
Peresensi Anty Husnawati, adalah wartawan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI.
Identitas Buku:
Judul : Perempuan Indonesia dan Covid-19
Penulis : Rita Audriyanti, dkk
Tebal : 205 halaman
Tahun : 2021
Penerbit : Farha Pustaka
ISBN : 978-623-278-738-4
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



