Halmahera Utara, Bimasislam --- Program bantuan masjid dan mushalla yang diselenggarakan Ditjen Bimas Islam mendapat tempat tersendiri di hati warga Muslim tanah air. Hampir Seribu proposal permohonan bantuan untuk merenovasi rumah ibadah umat Islam diterima oleh Subdit Kemasjidan setiap tahunnya. Permohonan tersebut datang dari seluruh penjuru tanah air. “Tentu saja kami melakukan screening yang ketat terhadap proposal yang masuk, di antaranya kelengkapan persyaratan, lalu keakuratan data yang dicantumkan dalam proposal, tingkat kemendesakan, kondisi bangunan masjid mushalla yang memohon bantuan, dan sebagainya,” demikian disampaikan Abdul Syukur, Kasubdit Kemasjidan , Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam, di ruang kerjanya.
Dikatakan Syukur, pengaruh faktor alam seperti kebencanaan juga mendapatkan perhatian lebih. “Misalnya daerah yang terdampak bencana alam tentu mendapat prioritas. Inginnya sih kami bantu semuanya, tapi kan kita harus meihat alokasi anggaran yang tersedia.” Katanya.
Sebelum mendapat bantuan dari Ditjen Bimas Islam, terlebih dahulu lokasi tersebut diverifikasi oleh tim yang di tugaskan. Tak jarang, tim yang ditugaskan untuk melakukan verifikasi juga berjibaku dengan kondisi alam yang menantang.
“Saya pernah ke daerah Siak, disana saya harus berganti-ganti moda transportasi lewat laut dan darat sampai empat kali. Darat, lalu laut, lalu lanjut darat lagi, lalu laut lagi, dan seterusnya hingga empat kali dan besoknya pagi-pagi harus kembali lagi.” ujarnya bercerita.
Belum lagi di daerah bernama Babo, Papua Barat. Saat itu, dikatakan Syukur, untuk mencapai lokasi masjid yang akan dibantu, Setelah mendarat dari penerbangan Jakarta ke Manokwari, ia melanjutkan perjalanan naik mobil offroad selama delapan jam, kemudian bermalam dulu, lalu lanjut lagi naik boat selama dua jam di laut. Sedangkan untuk pulang juga harus memperhatikan waktu karena keterbasatan moda angkutan.
Terkait itu, wartawan bimasislam juga sempat mendampingi pegawai Subdit Kemasjidan yang ditugaskan untuk melakukan verifkasi terhadap sebuah masjid yang terletak di Desa Soma Kecamatan Malifut, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, yaitu Masjid Al Muhtadin.
Perjalanan menuju Masjid Al-Muhtadin memang tidak sedramatik masjid lain seperti di Siak atau Papua Barat. Untuk mencapai Masjid Al-Muhtadin, Tim harus menyeberang laut sekitar satu jam dari Ternate ke Halmahera menggunakan speedboat, dengan pemandangan khas Maluku Utara yang indah, di antaranya pulau Maitara yang menjadi lukisan pecahan uang Seribu rupiah. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan melalui darat nyaris empat jam di Pulau Halmahera, pulau terbesar di Provinsi yang bertetangga dengan Papua Barat, yang banyak ditumbuhi cengkeh di kanan kiri jalan.
Penyeberangan dari Ternate ke Halmahera harus dilakukan pagi hari dan harus kembali sebelum sore. Hal ini karena ombak akan semakin kencang jika sudah lewat jam 4 sehingga dikhawatirkan Tim tidak bisa kembali ke Ternate hari itu.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Tim Bimas Islam tiba di Masjdi Al-Muhtadin, Jalan Trans Halmahera Utara, Kecamatan Malifut. Kepada Bimasislam, Ketua panitia Pembangunan Masjid Al-Muhtadin, Amrin Kamaria mengatakan bahwa anggaran yang dimiliki oleh Dewan Kemakmuran Masjid maupun mayarakat sekitar sangat terbatas. Oleh karena itu bantuan dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama sangat dibutuhkan “Meskipun dengan ketersediaan anggaran yang sangat terbatas, semangat membangun inilah yang mestinya diberi stimulus oleh pemerintah mengingat masjid merupakan media atau tempat pembinaan umat yang ideal,” katanya saat menerima petugas dari Ditjen Bimas Islam.
Kegiatan yang saat ini tengah berjalan di masjid berdiri sejak tahun 1995 itu adalah penyelesaian selasar, pengecatan, pengurugan halaman, pembangunan kamar mandi dan tempat wudhu serta pemasangan keramik. Amrin berharap, dana stimulus yang diberikan oleh Kementerian Agama dapat membantu kekurangan pembanugunan masjid tersebut.
Pembangunan Masjid Al-Muhtadin sendiri telah mendapatkan persetujuan dan rekomendasi dari sejumlah instansi, antara lain Kantor Kecamatan Malifut, Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Halmahera Utara, serta Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara.
Abdul Syukur mengatakan, semua proposal yang masuk pasti diterima. Setelah dilakukan verifikasi, pihaknya kemudian akan melakukan seleksi terhadap semua proposal yang masuk. “Semua dilakukan sesuai dengan prosedur dan seleksi yang ketat.” Pungkasnya.
Penulis : sigit kamseno
Editor : sigit kamseno
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



