Bogor,bimasislam– DirektoratUrusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama Repblik Indonesia menggelar Fokus Group Discusi (FGD) tentang perumusan standar Kepustakaan Islam.
Sejumlah tema bahasan disampaikan dalam kesempatan itu. Di antaranya, kebijakan pengembangan mutu, kebijakan teknis Direktorat Urais dan Binsyar tentang kepustakaan Islam, analisa data kepustakaan Islam di lingkup Bimas Islam, dan urgensi kepustakaan Islam di Indonesia. Selain itu, dibahas juga manajemen dan sistem perbukuan di Indonesia, pola pengendalian mutu kepustakaan Islam, dan proyeksi program kepustakaan islam tahun 2018.
Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI Muhammadiyah Amin menerangkan latar kenapa keberadaan Subdit kepustakaan Islam ini dinilai penting. Amin membuka presentasinya dengan memaparkandata dari Pusat Data dan Statistik Kemendikbud tahun 2015 tentang angka buta huruf di Indonesia yang mencapai 5.984.075 orang. Jumlah itu tersebar di enam provinsi meliputi Jawa Timur 1.258.184 orang, Jawa Tengah 943.683 orang, Jawa Barat 604.683 orang, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang, dan Nusa Tenggara Barat 315.258 orang.
Kemudian berdasarkan Hasil survei Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ) Jakarta, 65 persen dari 207.176.162 jiwa umat Islam di Indonesia ternyata masih buta aksara al-Qur’an. Sementara yang sudah bisa membaca tercatat baru 35 persennya. Dari angka itu, yang sudah membaca dengan benar hanya 20 persen.
“Program pengembangan kepustakaan islam ini bagian dari penguatan tradisi literasi keislaman oleh Kementerian Agama yang juga mendukung upaya menghadapi fenomena budaya baca di Indonesia yang masih tergolong rendah.. Adapun rencana programnya dilakukan oleh Ditjen Bimas Islam dengan cara penguatan tradisi literasi keislaman bagi penghulu, melalui Musabaqah Qira’atul Kutub dan LKTI, sampai pada penerbitan buku islam moderat,” kata Amin.
Melalui kepustakaan islam itu, Kementerian Agama akan membina para penyuluh agama dan penghulu untuk terusmembimbing, membina, dan mengarahkan umat Islam agardapat membaca dan menulis al-Qur’an. Para penyuluh agama dan penghulu harus bisa menghantarkan masyarakat islam supayamelek terhadap materi-materi keislaman.
Adapun fokus bahasan materi keislaman itu tadi, menurut Amin meliputi metode lisan dan tulisan, jurnalistik, penyuluhandigital, dan pengembangan dakwah berbasis komunitas pustaka Islam.
“Pustaka islamjuga akan membangun kemitraan strategisyang melibatkan seluruh elemen.Seperti MUI, Pustaka Pesantren, Perpusnas, Litbang Kementerian Agama, Asosiasi Pustakawan Perguruan Tinggi Agama Islam, Komunitas Pustaka,Perguruan Tinggi Islam, Penerbit Islam, Pustaka Berbasis Masjid dan lain-lain. Ini artinya bahwa dalam upaya pengembangan Kepustakaan Islam ke depan itu perlu kerja bersama semua pihak,” pungkasnya.
Hadir sebagai para peserta dalam acara FGD itu itu para pegiat kepustakaan Islam, editor, penulis, penerbit Islam, ormas Islam, pegawai di lingkungan Bimas Islam dan beberapa wakil perguruan tinggi islam.
Kegiatan yang dilaksanakan di Whizz Prime Hotel Bogor, berlangsung selama tiga hari, Selasa-Kamis (7-9/11/2017), selain diisi oleh pejabat Bimas islam juga dan diperkaya oleh beberapa narasumber ahli, seperti Arif Fahrudin dari Lembaga Pentashih Buku dan Konten Islam (LPBKI) MUI, Mahrus el-Mawa ahli filologi Islam, Supriyanto dari Pusat Perbukuan (Puspurbuk).
(syafaat/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



