Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama terus memperkuat pelayanan publik dengan pendekatan berbasis data dan fakta yang akurat. Langkah ini menjadi upaya strategis agar pelayanan keagamaan lebih responsif dan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.
Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan, pengelolaan data menjadi fondasi utama dalam menentukan kebijakan dan pelaksanaan program. “Data yang valid dan mudah diakses akan mempercepat pengambilan keputusan serta meningkatkan efektivitas pelayanan kepada umat,” ujarnya saat memberi arahan pada acara Focus Group Discussion Pengelolaan Media Sosial di Jakarta, Rabu (21/5/2025).
Abu menyebut, selama ini pengumpulan data kerap dianggap sebagai beban administratif. Namun, pihaknya berupaya menjadikan data sebagai alat strategis yang mampu memperkuat fungsi pelayanan keagamaan secara menyeluruh. “Jangan sampai data hanya disimpan tanpa dimanfaatkan, itu justru merugikan,” imbuhnya.
Pentingnya data terintegrasi dan real-time juga menjadi fokus utama Bimas Islam. Dengan demikian, pengelolaan zakat, wakaf, penyuluhan agama, hingga berbagai program keagamaan dapat dikelola secara efisien dan akurat.
“Kami berkomitmen untuk membangun sistem data yang mudah diakses oleh semua unit kerja, sehingga pelayanan bisa lebih cepat dan transparan,” jelas Abu.
Selain itu, Bimas Islam berupaya mengadopsi teknologi informasi untuk memperluas jangkauan pelayanan, terutama melalui media sosial dan platform digital. Hal ini menjadi bagian dari strategi mengedukasi masyarakat luas serta merespons isu-isu keagamaan yang berkembang di masyarakat secara cepat dan tepat.
“Dengan memanfaatkan media sosial secara optimal, kami bisa membangun engagement yang lebih besar dan memperkuat komunikasi dua arah dengan masyarakat,” tambahnya.
Guru Besar UIN Walisongo Semarang itu menilai, edukasi berbasis data dan fakta merupakan cara paling efektif untuk meluruskan berbagai miskonsepsi terkait agama yang kerap berkembang di ruang publik.
Lebih jauh, Abu menyebut pentingnya manajemen isu sebagai bagian dari pelayanan publik. Bimas Islam secara aktif melakukan pemantauan dan respons terhadap isu-isu keagamaan yang sensitif, seperti penentuan awal Ramadan, pelaksanaan ibadah haji, hingga toleransi antarumat beragama.
“Manajemen isu bukan sekadar mencari masalah, tetapi membuka horizon publik agar masyarakat memahami konteks keagamaan dengan baik. Ini penting agar kita bisa menjaga kerukunan dan menguatkan kebersamaan,” katanya.
Abu juga menggarisbawahi perlunya inovasi dalam penyuluhan agama agar sesuai dengan karakter masyarakat yang beragam. Ia mencontohkan pendekatan yang berbeda bagi generasi muda melalui konten kreatif di media sosial, serta penyuluhan tradisional yang tetap relevan untuk kelompok usia lebih tua.
“Penyuluhan tidak bisa satu model untuk semua. Harus ada segmentasi dan metode yang variatif supaya pesan agama bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan,” jelasnya.
Terkait peran penyuluh agama, Abu mengingatkan pentingnya profesionalisme dan data dalam pelaporan kegiatan. “Kegiatan penyuluhan harus terukur dan terdokumentasi dengan baik agar dampaknya bisa dinilai dan terus ditingkatkan,” ujarnya.
Abu juga mengajak seluruh jajaran di Bimas Islam untuk terus kreatif dalam mengelola konten dan informasi agar tidak membosankan masyarakat. “Jumlah pengikut di media sosial harus menjadi salah satu indikator keberhasilan pelayanan publik kita,” kata dia.
Sementara itu, terkait dengan penentuan awal Ramadan yang sering menjadi perhatian publik, Abu menegaskan bahwa pemerintah menggunakan metode yang mengombinasikan perhitungan astronomi dan rukyatul hilal secara ilmiah. “Ini hasil kompromi dan strategi yang sudah teruji agar keputusan lebih tepat dan diterima luas,” paparnya.
Ia menambahkan, koordinasi dan kolaborasi antarlembaga serta komunikasi intensif dengan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pelayanan Bimas Islam. “Kita harus hadir di tengah masyarakat dengan data yang jelas dan pelayanan yang responsif,” pungkasnya.
Melalui penguatan basis data dan pemanfaatan teknologi, Bimas Islam berharap mampu memberikan pelayanan yang semakin profesional dan berdampak positif bagi kehidupan umat Islam di Indonesia.
An/Mr



