Bogor, bimasislam -- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menyelenggarakan Training Masa Persiapan Pensiun (MPP) kepada pegawai yang akan menghadapi masa pensiun di hotel Harris, Sentul, Bogor (7/8). Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali pengetahuan kepada para pegawai yang sebentar lagi memasuki usia pensiun, baik wawasan kesehatan, manajemen keuangan, atau keterampilan wira usaha yang mungkin bisa diambil sebagai peluang pengembangan diri di usia pensiun.
Dalam sambutannya, Sekretaris Bimas Islam, Tarmizi Tohor, menyampaikan bahwa pegawai yang akan memasuki usia pensiun penting untuk memanfaatkan istilah 3K, yaitu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Menurutnya, tiga kata tersebut penting untuk mengambil peluang di usia pensiun kelak agar tetap produktif di usia tua.
"Untuk menghadapi usia pensiun, yang perlu dilakukan adalah menjaga semangat hidup dengan cara kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Ketiga kata tersebut menjadi barometer penting agar kita bisa mengambil peluang untuk mengembangkan diri setelah tidak bekerja di kantor. Di luar sana banyak kesempatan untuk mengabdi," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kabag Ortala, Kepegawaian, dan Hukum Ditjen Bimas Islam, Thobib Al-Asyhar menyampaikan bahwa filosofi penyelenggaraan training ini hampir sama dengan tujuan dilakukan program Keluarga Berencana. Menurutnya, dalam program KB didasarkan pada spirit tidak boleh meninggalkan sanak keturunan dalam keadaaan lemah. Demikian juga saat melepas pegawai memasuki usia pensiun tidak dalam keadaan lemah, baik fisik maupun mental.
"Kegiatan ini memiliki spirit seperti tujuan program KB bahwa kita tidak boleh meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah seperti disinyalir dalam QS: An-Nisa ayat 9. Demikian juga saat melepas pegawai memasuki usia pensiun agar tidak dalam keadaan lemah, seperti kondisi kesehatan yang menurun dan mental karena yang kurang stabil," ungkapnya.
Lebih lanjut dosen Psikologi Islam di Universitas Indonesia tersebut menyatakan bahwa banyak fakta pensiunan yang mengalami penurunan kesehatan secara drastis serta mengidap problem paikologi "post power syndrome" yang sangat menganggu terhadap produktifitas.
"Banyak fakta di lapangan sebagian pensiun yang sakit-sakitan setelah tidak bekerja di kantor. Bahkan ada juga yang mengalami 'post power syndrome' akut karena biasanya di kantor memiliki kekuasaan dan kewenangan, sementara di rumah banyak hal yang harus dikerjakan sendiri, sehingga dapat menimbulkan beban psikologis," ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pegawai Ditjen Bimas Islam, wakil dari Biro Kepegawaian, UPT Bimas Islam UPQ dan Sekretariat Baznas sebanyak 60 orang. Dalam pantauan bimasislam, peserta sangat antusias pada setiap sesi, seperti wawasan kesehatan dari dokter penyakit dalam, pelatihan bertanam hidroponik di Kampung Koneng dan pembuatan cake atau roti.
Penulis: bieb asyhar
Editor: bimasislam
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



