Jakarta, Bimas Islam -- Berpuasa sejak dini perlu ditanamkan pada anak, sehingga mereka akan terbiasa. Kebiasaan berpuasa pada anak diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan hikmah ketika menahan lapar dari waktu sahur hingga berbuka. Mulai dari puasa setengah hari, perlahan anak perlu diajarkan untuk berpuasa penuh hingga waktu magrib.
Orang tua menggunakan berbagai metode untuk melatih anak berpuasa, salah satunya memberi hadiah jika anak berhasil berpuasa sebulan penuh. Bagaimana Islam memandang hal tersebut?
Dosen Pascasarjana PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur'an), Nur Rofiah menjelaskan, memberi hadiah kepada anak yang berhasil puasa sebulan penuh merupakan hal yang bagus namun perlu diwaspadai dampaknya.
Hal itu ia sampaikan dalam Program Edukasi Syariah Ramadan Bimas Islam, Selasa (11/4/23).
Menurutnya, memberi hadiah pada anak sebagai penghargaan setelah berpuasa tentu memunculkan berbagai dampak, seperti misalnya, sang anak berpuasa tidak untuk beribadah dan mendapatkan pahala, namun karena ingin mendapat hadiah dari orang tuanya.
“Karenanya, hadiah perlu diberikan dengan berbagai cara, misalnya, bersifat spontan. Jadi jangan dijanjikan sejak awal. Beri pengertian bahwa puasa Ramadan itu adalah kewajiban agama, sehingga diberi hadiah atau tidak, anak mesti melakukannya,” ujarnya.
Dalam melatih anak berpuasa, memberi pengertian sangat penting. Sehingga, anak mengerti bahwa dirinya berpuasa kepada Allah SWT dengan tujuan ibadah.
Nur Rofiah juga menjelaskan, anak laki-laki dan perempuan membutuhkan treatment yang berbeda, karena anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan kondisi biologis, seperti menstruasi bagi perempuan.
“Kalau misalnya anak laki-laki yang puasa sebulan penuh itu diberi hadiah, maka anak perempuan yang tidak puasa hanya karena menstruasi juga mesti diberi hadiah yang sama,” pungkasnya.
Fn/Mr



