Jakarta, Bimas Islam --- Dalam sebuah kesempatan, pernah ada seseorang yang bertanya mengenai hukum mengutip ayat Al-Qur’an untuk berdalil bagi orang yang junub. Pasalnya, dia pernah dalam keadaan junub ditanya mengenai masalah hukum dan ditanya pula mengenai dalil Al-Qur’annya. Akhirnya, dia mengutip ayat Al-Qur’an untuk berdalil padahal dia dalam keadaan junub. Apakah boleh bagi orang junub mengutip ayat Al-Qur’an untuk berdalil?
Mengutip ayat Al-Qur’an bagi orang yang junub untuk dijadikan dalil dalam sebuah masalah hukum, hukumnya adalah boleh, tidak haram. Tidak masalah bagi orang junub atau orang yang sedang dalam keadaan hadas besar seperti perempuan haid dan nifas mengutip ayat Al-Qur’an dengan tujuan untuk berdalil.
Ini karena yang haram bagi orang yang hadas besar, seperti orang junub, haid dan nifas, adalah membaca Al-Qur’an dengan tujuan dan niat membaca Al-Qur’an. Namun jika diniatkan selain membaca Al-Qur’an, seperti diniatkan untuk zikir, untuk doa, untuk ruqyah, untuk berdalil dalam sebuah permasalahan hukum, maka hukumnya boleh, tidak haram.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi berikut:
Halal bagi orang yang sedang hadas besar membaca zikir-zikir Al-Qur’an dan lainnya, seperti peringatan-peringatannya, kabar-kabarnya (kisah-kisahnya), dan hukum-hukumnya tanpa niat membaca Al-Qur’an. Seperti ketika naik kendaraan membaca; Subhaanal ladziisakhkhara lanaahaadzaawa maakunnaalahuumuqriniin, dan ketika musibah membaca; Innaalillaahi wa innaailaihi raaji’uun. Dan halal membaca sesuatu yang terbiasa pada lidahnya tanpa bermaksud membaca Al-Qur’an. Jika bermaksud membaca Al-Qur’an, atau bermaksud membaca Al-Qur’an dan zikir, maka hukumnya haram. Dan jika memutlakkan, tidak bermaksud membaca keduanya, maka tidak haram.
Disebutkan dalam kitab Jawahir Al-Iklil, bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang boleh dibaca oleh orang yang junub adalah bila diniatkan sebagai dalil dalam sebuah hukum syariat. Ini sebagaimana disebutkan berikut:
Orang junub dicegah membaca Al-Qur’an meskipun tanpa memegang mushaf dan hanya menggerakkan lisan saja. Adapun membaca dengan hati, maka tidak perlu dicegah karena hal itu tidak dinilai membaca secara syariat. Kecuali (tidak perlu dicegah) jika membaca ayat untuk perlindungan, seperti ayat Kursi, surah Al-Ikhlas, surah Al-Falaq dan Al-Nas, dan ayat-ayat lainnya, seperti ayat ruqyah dan untuk tujuan berdalil atas suatu hukum syar’i.
(tim layanan Syariah)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



