Bogor, Bimas Islam -- Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Murtadlo menjelaskan pentingnya penyusunan repositori (pelestarian) khazanah seni budaya Islam non bendawi. Hal itu ia sampaikan dalam acara FGD Program Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Tahun Anggaran 2024 di Bogor, Selasa (16/5/2023).
“Agama hadir di Indonesia memperkaya khazanah seni budaya. Jika terlalu sibuk pada pemisahan seni budaya dengan agama, nanti malah akan mengalami kepunahan. Kedatangan agama-agama besar telah membantu lahirnya seni budaya nusantara yang luar biasa kaya,” ucapnya.
Ia mengatakan, dokumentasi sangat diperlukan terhadap semua bentuk seni budaya keagamaan.
Murtadlo pun mengklasifikasikan kebudayaan ke dalam dua jenis, yaitu benda (tangible), dan non bendawi (intangible). Ia berpesan kepada Bimas Islam untuk melakukan penyusunan repositori khazanah seni budaya tak benda, misalnya berselawat.
Seni budaya non bendawi juga terbagi dalam dua tipologi, yaitu tipe audio, dan tipe audio visual (seni pertunjukkan). Ia menyarankan, pengarsipan kesenian tersebut dikelola melalui penyimpanan digital.
“Belakangan, seni budaya keagamaan tradisional kehilangan peminat dan panggung, sehingga perlu ada upaya untuk melakukan penyimpanan. Tujuan dari penyimpanan tersebut untuk direproduksi ulang. Sehingga saya usulkan penyusunan repositori budaya tadi,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan, terdapat model konservasi terhadap seni budaya tak benda, yaitu inventarisasi nasional untuk status terdaftar, pengesahan satuan seni budaya sebagai khazanah keagamaan nasional, dan pendampingan seni budaya sebagai warisan dunia (UNESCO).
Terakhir, ia juga mengusulkan untuk membuat pedoman sebagai acuan bagi pihak-pihak terkait seperti petugas inventarisasi dan masyarakat, membuat sistem inventarisasi dan penyimpanan data seni kebudayaan, dan menyusun rencana aksi pengembangan repositori seni budaya keagamaan seperti penyusunan Tor Package Repository serta desain pembuatan repositori.
Fn/Mr



