Jakarta, bimasislam --- Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan bahwa persoalan yang ada di media sosial sangat penting untuk diberi perhatian dan disikapi. Menurut hasil survey yang dilakukan pihaknya, saat ini sebanyak 50% masyarakat Indonesia telah terpapar oleh internet.
“Soal medsos, hoax, adalah sangat penting. Ada keterkaitan eksponensial mereka yang terapapar internet itu 50%. Semakin mereka berkoneksi dengan internet, semakin mereka terkoneksi dengan medsos. Era medsos ini adalah era membutuhkan jawaban cepat, butuh jubir yang dapat mengatasi permasalahan ini, ungkap Burhanuddin saat menyampaikan materi pada Rakernas Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kemenag RI, di Jakarta, Rabu (13/2).
Dikatakan Burhanuddin, bahwa saat ini adalah era di mana banyak generasi muda yang gairah belajar agama sangat tinggi. Namun di sisi lain, tokoh agama yang memiliki wawasan moderasi beragama belum sepenuhnya siap menghadapi fenomena ini, sehingga banyak yang belajar melalui internet dan tidak jarang mereka salah mendapatkan sumber yang kredibel. Oleh karena itu, ia berharap Bimas Islam harus hadir di ruang publik dalam rangka menjaga keislaman sekaligus keindonesiaan umat.
“Sebagai bagian autokritik kepada kita, sejauh mana pemerintah hadir di ruang publik, konsisten mengimplementasikan visi misi Kementerian Agama yaitu menjaga pilar keislaman dan keindonesiaan menjadi dua pilar yang indah karena ada sekarang kelompok yang sedang bergerilya bahwa keislaman dan keindonesiaan ini harus dipisahkan," terang Dosen Fisip UIN Jakarta ini.
Burhanuddin juga mengingatkan, bahwa sekarang eranya serba cepat, kalau kita tidak tanggap maka akan diambil oleh kelompok “ekstrimis” dan akan menimbulkan hal hal yang diluar nalar.
“Anak-anak muda saat ini butuh sesuatu yang simpel, yang cepat, kalau kita tidak siap maka akan ditangkap oleh orang orang yang tidak moderat, yang cenderung menyalahkan, bahkan sekelas Profesor Quraish Shihab yang karyanya berjilid-jilid dan Profesor Nadirsyah Husein yang kuliahnya dobel dobel saja dicaci maki oleh santri google," ujarnya.
Dihadapan Dirjen Bimas Islam, Burhanuddin berharap seluruh program Bimas Islam harus disinkronkan dan berbasis riset. “Saya rasa program Bimas Islam harus disingkronkan dari pusat hingga darerah, harus berbasis riset dan tidak hanya berhenti memenuhi laci-laci perpustakaan, perlu penelitian lanjutan dan kajian agar menjadi kebijakan yang tepat," pungkasnya.
Selain itu, Burhanuddin juga memaparkan hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaganya. Berdasarkan data survey yang dilakukan oleh Indikator, bahwa gerakan moderasi Islam di Indonesia saat ini bertumpu pada peran ormas Islam. Artinya, peran ormas Islam sangat menentukan arah dan capaian gerakan moderasi Islam saat ini. Dengan demikian, Burhanuddin mengingatkan agar pemerintah memfasilitasi ormas Islam dalam menjalankan fungsinya sebagai pembina umat.
Penulis: Syamsuddin
Editor: Syamsuddin
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



