Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam Kementerian Agama, M. Fuad Nasar menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Prof. Ahmad Syafii Maarif.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya selaku pribadi dan atas nama jajaran Ditjen Bimas Islam turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Indonesia telah kehilangan seorang tokoh pemikir bangsa dan penulis yang produktif hingga usia lanjut,” kata Sesditjen kepada bimasislam, Jumat (27/5).
Sesditjen mengungkapkan, Buya Syafii adalah seorang guru bangsa yang langka di masa kini dan figur intelektual yang mampu mempertautkan dunia pemikiran Timur dan Barat.
“Beliau sosok sederhana, low profil tanpa dibuat-buat, jujur, dan tulus dalam berbakti bagi kepentingan umat, negara, serta bangsa, sebagaimana terekam dalam kiprahnya selama ini dan terungkap dalam berbagai artikel/tulisannya di media massa. Buya Syafii Maarif sangat peduli dengan moralitas bangsa yang rapuh saat ini. Almarhum seorang cendekiawan dan tokoh muslim yang memiliki pemikiran dan pendirian yang mandiri dan kokoh bagai karang di tengah gelombang," ujar Fuad.
Fuad mengatakan, Buya Syafii Maarif sepanjang hidupnya memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap masa depan bangsa dan teguh dalam memegang prinsip yang diyakininya.
“Obsesinya tentang Islam yang berkemajuan dan Indonesia yang bermartabat, sungguh luar biasa," ujar Fuad Nasar.
“Semoga almarhum husnul khatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na'im,” tutupnya.
Sebagai informasi, Buya Ahmad Syafii Maarif adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 1998 - 2005. Ahmad Syafii Maarif lahir di Sumpur Kudus, Sumatera Barat tanggal 31 Mei tahun 1935. Merantau ke Jogja dan menamatkan pendidikan di madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, kuliah di Universitas Tjokroaminoto Surakarta (1964) dan IKIP Yogyakarta (1968), meraih MA dari Ohio University Athens,USA, dalam bidang sejarah (1980) dan Ph.D dalam bidang pemikiran Islam dari Chicago University Amerika Serikat (1982).Tahun 2008 beliau dianugerahi Ramon Magsaysay Awardees dan Habibie Award 2010 dari the Habibie Center.
Guru Besar Ilmu Sejarah pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) IKIP Yogyakarta (kini UNY) itu menulis puluhan buku, di antaranya: Islam dan Masalah Kenegaraan (Studi tentang Percaturan Dalam Konstituante, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin 1959 - 1965, Al-Qur'an Realitas Sosial dan Limbo Sejarah, dan lainnya.
(Tommy)



