Jakarta, Bimas Islam -- Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Mohammad Nuh mengajak Kepala KUA Revitalisasi untuk menjadi problem solver bagi masyarakat. Menurutnya, menjadi Kepala KUA yang sigap melayani merupakan bentuk wakaf diri pada umat.
Hal itu disampaikannya saat mengisi materi berjudul 'Wakaf Produktif: Peningkatan Ekonomi Umat Berbasis KUA’ dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Layanan Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah bagi Kepala KUA Revitalisasi Wilayah se-Kalimantan, Bali, NTB dan NTT, Kamis (4/5/2023) di Jakarta.
“Jadikan kehadiran KUA sebagai solusi, jangan sebaliknya,” ucapnya.
Ia juga mengatakan, KUA mesti terlibat dalam sosialisasi dan pengelolaan wakaf. Menurutnya, dalam wakaf terdapat kesetaraan, dakwah, dan perjuangan membangun masa depan.
“Jika KUA tergerak untuk mengurus perwakafan, itu nikmat yang luar biasa, karena berkaitan dengan kesejahteraan, dakwah, martabat, dan masa depan,” ujarnya.
Mohammad Nuh menambahkan, program Revitalisasi KUA merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi penting KUA yang sebenarnya. Dalam program Revitalisasi KUA, imbuhnya, dilakukan penguatan fungsi dan struktur pengelolaan melalui perbaikan sumber daya manusia.
“Revitalisasi itu artinya, KUA dulu pernah menjadi vital, penting, dan strategis, kemudian dikuatkan lagi, baik struktur maupun fungsi, termasuk kompetensinya. Inilah makna program revitalisasi,” jelasnya.
Bagi Nuh, Revitalisasi KUA mampu memaksimalkan layanan KUA. “Revitalisasi ini mengisi lubang-lubang (kekurangan) yang belum dimaksimalkan di KUA demi masa depan KUA yang lebih baik, karena KUA-lah yang berintegrasi langsung dengan masyarakat,” pungkasnya.
Ba/Mr



