Sofifi, Bimas Islam --- Menjaga hafalan Al-Qur’an tidaklah mudah. Kadang, orang bisa frustrasi hanya karena gagal menjaga hafalannya. Terlebih, jika hafalan tersebut diuji di depan khalayak umum seperti event Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) misalnya. Tentu menjadi tantangan tersendiri.
Hal ini berlaku pula bagi Nanda Anan Mumtaz. Pemuda tanggung asal Kepulauan Riau ini tampil cukup memukau penonton pada gelaran STQH XXVI di Aula Kantor Gubernur Maluku Utara cabang 5 Juz. Semua ujian dari dewan hakim berhasil dilewati. Pelatih Kafilah Kepulauan Riau, Asril Arief yang hari itu menemani Nanda berlaga, berbagi tips menjaga hafalan salah satu anak asuhnya itu.
“Menjaga hafalan itu tidak mudah, perlu niat dan kesungguhan. Kami mencoba hal-hal yang bisa membuat anak-anak ini tetap senang menghafal. Maksimal hafalan terjaga itu sehari, kalau sudah lewat sehari biasanya akan lupa. Jadi kita upayakan setiap hari mereka mengulang hafalannya,” ujar Asril saat ditemui bimasislam di venue Kantor Gubernur Maluku Utara, Selasa (19/10).
Asril mengungkapkan, cara pertama yang ia lakukan adalah tidak mengizinkan anak asuhnya memegang ponsel selama dua bulan. Bagi dia, ponsel bisa menjadi musuh bagi penghafal Al-Qur’an. Karenanya Asril tak ingin anak asuhnya lalai karena memegang ponsel.
“Persiapan kami untuk STQH di Sofifi ini selama dua bulan. Selama ini, kami melakukan pembinaan di Qur’an Center dan tidak memperkenankan anak-anak ini memegang ponsel. Biasanya kalau sudah pegang ponsel, maka tujuan utama sebagai penghafal Al-Qur’an yaitu mengulang-ulang terus hafalannya akan dilalaikan,” tuturnya.
Cara kedua, kata Asril, adalah mengecek hafalan anak asuhnya setiap hari. Ia menjelaskan, cara ini adalah untuk menumbuhkan mental dan daya ingatan. Asril tak ingin anak asuhnya ketika latihan memiliki hasil yang bagus atau sempurna, namun ketika diuji dewan hakim menjadi berantakan dan tidak mencapai hasil yang diinginkan.
“Kami di Qur’an Center setiap hari mengecek hafalan anak-anak ini. Kami itu tidak ingin mengalami yang namanya ketika latihan bagus, tapi ketika tampil malah kurang. Ini yang sering terjadi. Untuk mencegahnya, kita bentuk dulu mental anak-anak supaya dalam keadaan apa pun, mereka tetap mahir melantunkan ayat suci Al-Qur’an,” katanya.
Asril menambahkan, lima hari sebelum keberangkatan ke Sofifi, anak asuhnya yang berjumlah 20 orang itu kembali diuji di Training Center (TC). Ujian di TC ini, menurut Asril, untuk mengecek kesiapan anak asuhnya menghadapi STQH tingkat nasional di Sofifi, Maluku Utara. Melalui ujian di TC, Asril yakin tahun ini kafilah Kepulauan Riau bisa berbicara banyak pada event dua tahunan itu.
“Mudah-mudahan pada STQH di Sofifi ini kami bisa juara umum. Untuk mencapai itu memang berat, karena kafilah dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, ditambah Sumatera Barat yang MTQ tahun lalu menjadi juara umum. Belum lagi Maluku Utara sebagai tuan rumah, pasti punya kesiapan matang. Tapi kami optimis bisa meraih juara,” kata Asril.
(Rendi)
Foto dari: Sandri F. N.
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



