Jakarta, Bimas Islam — Guru Besar Ilmu Kajian Gender Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alimatul Qibtiyah, mengajak para fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) untuk menanamkan nilai kesalingan kepada calon pengantin (catin).
Menurut Alimatul, nilai kesalingan penting dikenalkan sejak awal agar pasangan memiliki pemahaman yang setara dan seimbang dalam kehidupan rumah tangga.
“Kesalingan artinya saling memberi, saling memahami, dan saling mendukung. Suami tidak lebih tinggi dari istri, dan istri bukan pelayan suami. Keduanya adalah mitra,” ujarnya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimwin Catin Angkatan V dan VI yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Alimatul menjelaskan, Islam mengajarkan bahwa suami dan istri memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah. Mereka perlu bekerja sama dalam membangun keluarga. “Peran suami dan istri bisa saling bergantian dan menopang. Jika salah satu lelah, yang lain mendukung. Ini nilai Islam yang luhur dan relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Perceraian dan Akar Permasalahan
Alimatul menyebut, penyebab utama perceraian antara lain perselisihan berkepanjangan, persoalan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan ketidaksetiaan. “Konflik rumah tangga banyak dipicu oleh pengabaian kewajiban pasangan, perencanaan keuangan yang buruk, serta minimnya empati satu sama lain,” terangnya.
Ia menambahkan, penggunaan media sosial secara tidak bijak turut memicu keretakan rumah tangga. Sekitar 80 persen perceraian, katanya, berkaitan dengan persoalan digital.
“Banyak pasangan lebih sibuk dengan ponsel dan media sosial ketimbang membangun komunikasi yang sehat. Perselingkuhan pun menjadi lebih mudah. Bahkan hanya karena unggahan foto mesra dengan orang lain, pertengkaran bisa terjadi,” jelasnya.
Tekanan Budaya Patriarki
Alimatul juga membahas dampak budaya patriarki terhadap laki-laki, terutama dalam bentuk krisis maskulinitas. Ia menyebut, tuntutan agar laki-laki selalu kuat, mapan, dan tidak menunjukkan emosi, justru berpotensi merusak kesehatan mental.
“Ketika tuntutan sosial itu tidak terpenuhi, sebagian laki-laki mengalami tekanan psikologis. Untuk membuktikan dirinya sebagai laki-laki sejati, kadang-kadang mereka justru melakukan KDRT,” paparnya.
Ia mengungkapkan, keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu menjawab tantangan zaman melalui relasi yang adil dan saling menghormati antarpasangan.
“Kita perlu mengubah cara pandang masyarakat. Selama ini ada pandangan hirarkis: Tuhan–Suami–Istri. Ini perlu diubah menjadi segitiga: Tuhan, Suami, dan Istri dalam posisi sejajar. Suami tetap dihormati, tapi istri juga diangkat martabatnya agar setara,” pungkasnya.
Wcp/Mr



