Sayuti menyebut, tugasnya sebagai penyuluh agama bukan hanya pekerjaan, tetapi juga panggilan hati. "Saya mencintai masa depan generasi kita. Jika tidak dimulai dari sekarang, stunting akan terus menghambat kualitas hidup anak-anak kita," ujarnya kepada wartawan, Kamis (28/11/2024).
Ia bekerja sama dengan Puskesmas Lingsar, Puskesmas Sigerongan, Dai Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Lombok Barat untuk memberi edukasi kepada masyarakat. Topik yang disampaikan meliputi pola makan sehat, pentingnya pemenuhan gizi, serta cara mencegah stunting.
“Kami sering melakukan penyuluhan bersama, baik di balai desa maupun secara langsung ke masyarakat, menyampaikan informasi penting tentang kesehatan keluarga," ungkap Sayuti.
Tantangan dan Pendekatan
Meski semangatnya tinggi, Sayuti menghadapi tantangan rendahnya kesadaran masyarakat. Sebagian warga menganggap penyuluhan harus diiringi bantuan materi. "Ini menjadi tantangan, tetapi saya mencoba menyampaikan pentingnya edukasi ini dengan pendekatan persuasif," katanya.
Di pedesaan, Sayuti menggunakan metode komunikasi dari hati ke hati. Sementara di balai desa, ia menerapkan pendekatan dialog yang diselingi praktik langsung, seperti menanam sayuran bergizi di pekarangan rumah.
“Hal yang paling membahagiakan adalah saat masyarakat mulai mempraktikkan apa yang kami sampaikan. Itu menjadi bukti bahwa penyuluhan kami berhasil,” jelasnya.
Namun, perjuangan di lapangan tidak selalu mudah. Sayuti pernah mengalami kesulitan seperti kehabisan bahan bakar di tengah hujan lebat saat menuju lokasi penyuluhan. Meski demikian, ia tetap teguh menjalankan tugasnya.
Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam, Amirullah, mengapresiasi dedikasi Sayuti. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak merupakan langkah strategis dalam menekan angka stunting.
"Penyuluh Agama Islam adalah mitra penting bagi Bimas Islam, termasuk dalam percepatan penurunan stunting. Pendekatan berbasis nilai agama yang dipadukan dengan kerja sama lintas sektor sangat efektif," ujar Amirullah.
Ia berharap, upaya yang dilakukan Sayuti dapat menjadi contoh bagi penyuluh agama lainnya. “Sinergi semacam ini tidak hanya mencegah _stunting_, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat dan berkualitas,” imbuhnya.
Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, Muhammad Sayuti terus bergerak untuk menciptakan generasi bebas stunting. "Saya percaya, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi masa depan anak-anak Indonesia," tutupnya.
Msk/Mr



