Jakarta, Bimas Islam – CEO dan Founder Alvara Research Center, Hasanudin Ali, menilai perkembangan artificial intelligence (AI) dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat bagi penceramah agama. Namun, ia menegaskan teknologi tersebut tidak boleh sepenuhnya dipercaya tanpa kurasi manusia.
“AI bisa membantu teman-teman semua, tapi jangan dipercaya 100 persen. Saya sendiri pengguna AI, tapi tetap melakukan kurasi terhadap hasilnya. Kalau jawabannya tidak masuk akal atau salah, ya tidak saya pakai,” ujar Hasanudin dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam Tingkat Pusat dan MABIMS 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Hasanudin memaparkan, data menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia telah menggunakan AI. Sebanyak 66% termasuk kategori “AI user”, yaitu kelompok yang baru memanfaatkan AI namun percaya pada manfaatnya. Sekitar 12% merupakan “AI enthusiast” yang memahami nilai dan yakin AI bermanfaat, sementara 22% lainnya adalah “AI skeptic” yang menilai teknologi ini berdampak buruk.
Menurutnya, generasi muda lebih cepat menerima kehadiran AI dibanding kelompok usia tua. Meski begitu, kemampuan mengkurasi hasil tetap menjadi kunci agar pemanfaatannya tidak menimbulkan kesalahan, terutama dalam konteks dakwah.
“Orang pandai ketika menggunakan AI akan makin pintar, tapi orang yang tidak punya kapasitas justru bisa tambah bodoh. Karena menyerahkan semua otoritas kebenaran kepada AI, padahal bisa saja salah,” jelasnya.
Hasanudin menambahkan, AI dapat dipakai untuk memperindah kalimat dan menyusun konten dakwah agar lebih menarik bagi generasi muda. Namun, ia mengingatkan bahwa data, referensi, dan dalil agama tetap harus diverifikasi secara mendalam oleh penceramah.
Senada dengan itu, Kepala Subdirektorat Dakwah dan Hari Besar Islam Kemenag, Amirullah, mengatakan, pemanfaatan teknologi mutakhir seperti AI dapat menjadi peluang besar bagi para penceramah untuk meningkatkan kualitas dan jangkauan dakwah mereka, asalkan tetap memperhatikan etika dan kebenaran substansi.
“AI bisa menjadi sarana yang efektif untuk memperluas akses dakwah, tetapi jangan sampai menggantikan peran penceramah dalam menelaah dan memvalidasi isi materi. Kebenaran pesan agama harus tetap dijaga,” ungkapnya.
Amirullah juga menekankan pentingnya literasi digital di kalangan penceramah. Menurutnya, kemampuan menggunakan dan menyaring informasi dari AI harus sejalan dengan pemahaman yang baik tentang prinsip-prinsip ajaran Islam, agar materi yang disampaikan tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
“Dengan pemahaman yang benar, AI justru akan memperkaya metode dan pendekatan dakwah kita. Namun jika digunakan tanpa kecakapan dan tanggung jawab, potensi disinformasi bisa semakin besar,” tandas Amirullah.
Mr-Wcp



