Sanggau, Bimas Islam -- Satu dari delapan dai yang bertugas di wilayah Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat itu bernama Najmudin Syarhil. Ia bersama tujuh dai lainnya melaksanakan misi kebangsaan, menyampaikan dakwah di daerah yang tidak banyak mendapat ilmu keislaman.
Entikong merupakan salah satu wilayah paling ujung di Kalimantan Barat. Karenanya, daerah ini memiliki keunikan dan keberagaman, termasuk dalam adat lokal dan keagamaan.
Najmudin bersama teman-teman dai berusaha memberi pemahaman ilmu agama kepada masyarakat, di samping juga mempelajari kehidupan lokal di Entikong.
"Kita biasanya memang lebih banyak mengisi di masjid untuk Salat Magrib atau pun Tarawih. Namun, untuk salat lainnya, kita pakai sistem rolling, walau sudah ditentukan titik masjid masing-masing," ujar Najmudin (26/4/2023) kepada Tim Bimas Islam.
Ia bercerita, menjadi imam dan mengisi khutbah dan kultum di masjid menjadi aktivitas keseharian para dai selama bertugas. Di samping itu, mereka juga mengajarkan al-Qur'an melalui Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA), pesantren kilat, dan lainnya.
Ditempatkan di Entikong dalam program pengiriman dari di wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar) yang digelar Kemenag selama bulan Ramadan 1444 H menjadi tantangan tersendiri bagi Najmudin dan kawan-kawan. Berbagai kendala di hadapi, salah satunya jumlah masjid yang tidak banyak dan berjarak sangat jauh satu sama lain. Hal tersebut terjadi karena jumlah penduduk muslim tak sebanyak pemeluk agama Kristen dan Katolik.
Meski begitu, menurut Najmudin, toleransi antarumat beragama di Entikong sangat kuat, tidak pernah terjadi konflik yang berkaitan dengan peribadatan atau aktivitas keagamaan lainnya.
"Respons masyarakat, alhamdulillah, banyak yang merasa terbantu. Sebaliknya, Dewan Kesejahteraan Masjid (DKM) di surau atau musala juga sangat membantu tugas kami," tuturnya.
Ia berharap, ke depan, kegiatan ini dapat berlanjut. Ia juga menyampaikan perlunya koordinasi antarpihak untuk memetakan wilayah target dakwah.
Fn/Mr



