Jakarta, Bimas Islam -- Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Nasaruddin Umar menyampaikan, tujuan naskah khotbah Jumat dibuat adalah untuk diperdengarkan, bukan dibacakan.
Hal itu diungkapkannya saat menjadi narasumber pada kegiatan Coaching Clinic Penulisan Naskah Khotbah Jumat yang digelar di Jakarta, Selasa (9/5/2023).
“Kalau tujuan naskah dibuat hanya untuk dibacakan, maka orang akan mengantuk. Maka, pastikan naskah yang kita buat adalah untuk diperdengarkan kepada masyarakat,” tuturnya.
Lebih lanjut dipaparkannya, gaya tulisan naskah khotbah Jumat yang akan diperdengarkan pada masyarakat harus menggunakan bahasa lisan. Sehingga, tidak perlu menggunakan bahasa akademik yang sulit dipahami masyarakat.
“Seorang penulis itu harus lihai dalam melihat konteks masyarakatnya. Kebanyakan naskah khotbah Jumat itu dikonsumsi oleh masyarakat awam. Karenanya, perlu menggunakan bahasa-bahasa sederhana yang layak diperdengarkan pada masyarakat,” ucapnya.
Nasaruddin Umar juga berpesan kepada para peserta Coaching Clinic agar naskah khotbah Jumat yang ditulis bisa menyentuh nurani masyarakat.
“Sebetulnya, khutbah Jumat itu bukan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagaimana yang dilakukan di sekolah-sekolah ataupun pondok pesantren. Tapi yang terpenting itu adalah bagaimana bisa memberikan kedamaian, menyentuh nurani masyarakat,” ulas Nasaruddin Umar.
Terakhir, Nasaruddin Umar mengingatkan kepada peserta Coaching Clinic agar bisa meningkatkan kemampuannya dalam menulis naskah khutbah Jumat dengan cara memperbanyak membaca literatur yang mencerminkan nilai-nilai moderasi.
“Seorang penulis yang tekun, berpeluang menjadi seorang pembaca yang rakus. Dan, seorang pembaca yang rakus, berpeluang menjadi seorang penulis. Maka, harapan kita bersama, naskah khotbah itu bisa mencerminkan nilai-nilai moderasi,” tutupnya.
Wcp/Sk



