Belu, Bimas Islam -- Program pengiriman dai ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang digelar Ditjen Bimas Islam Kemenag resmi ditutup pada Senin, 17 April 2023. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Antonius Nggaa Rua mengapresiasi kemampuan adaptasi tiga pendakwah program tersebut yang bertugas di daerahnya.
Ketiga pendakwah itu, Musa Wardi asal Padang Pariaman, Abdul Jabar Idharudin asal Banten, dan Mahsun asal Lombok, dinilai mampu menyesuaikan diri secara cepat terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Belu.
"Tiga dai atau pendakwah ini baru pertama kali ke Belu. Mereka punya latar belakang budaya yang berbeda dengan masyarakat di sini. Namun mereka mampu beradaptasi secara cepat dengan kemajemukan di Kabupaten Belu," ujar Antonius saat menutup Program Dai Daerah 3T di Kantornya, Senin (17/04/2023).
Berbeda dengan daerah dengan penduduk mayoritas muslim, Antonius mengatakan, suasana Ramadan di Kabupaten Belu tidak tampak istimewa. Ia bersyukur para dai dapat menerima keadaan tersebut.
Ia juga menyampaikan, para dai telah melaksanakan tugas secara maksimal. Mereka bersedia mendampingi berbagai kelompok masyarakat di Kabupaten Belu siang dan malam.
"Kemampuan adaptasi (para dai 3T) dengan tempat di mana mereka diutus, membuat misi mereka sukses. Para dai ini membagi semua ilmunya, baik ilmu agama, maupun wawasan kebangsaan," ucapnya.
Antonius menambahkan, wawasan kebangsaan merupakan hal sederhana yang sulit diterapkan, terlebih di daerah perbatasan. Menurutnya, penguatan wawasan kebangsaan berbasis agama mutlak diperlukan, dan dai 3T telah berhasil memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai nilai-nilai tersebut.
Diketahui, pengiriman dai ke wilayah 3T ini merupakan program rutin yang digelar Kementerian Agama setiap bulan Ramadan. Program ini menjadi ikhtiar dalam pemerataan layanan keagamaan, terutama dalam penguatan pemahaman keagamaan moderat dan wawasan kebangsaan.
Mr



