Kota Serang, Bimas Islam --- Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari penggunaan seni dan budaya sebagai sarana dakwah. Dakwah melalui pendekatan seni dan budaya dinilai efektif dan membekas di hati masyarakat.
Hal ini disampaikan Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin dalam Pembinaan Budayawan dan Seniman Islam Provinsi Banten di Hotel Le Dian, Kota Serang, Kamis (4/8/22). Kegiatan yang dilangsungkan selama 3 hari ini diikuti seniman dan budayawan dari sanggar seni di Provinsi Banten.
"Islam masuk ke Indonesia sebelum Wali Sanga, tapi perkembangannya tidak begitu bagus. Ketika Wali Sanga datang dengan menggunakan pendekatan instrumen seni dan budaya seperti wayang, gamelan, suluk ternyata sarana itu familier, efektif, dan berkesan di tengah masyarakat," ungkap Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar ini.
Tidak hanya oleh Wali Sanga, pendekatan seni dan budaya juga digunakan oleh ulama internasional. Dirjen menyebut Tokoh Sufi Jalaluddin Rumi yang menggunakan syair sebagai salah satu instrumen seni saat menulis Matsnawi.
"Banyak pemikir muslim menggunakan seni melalui syair. Kita bisa membaca karya Sufi Besar Jalaluddin Rumi, Matsnawi.
Sampai-sampai, Matsnawi ini disebut sebagai Al-Qur'an yang berbahasa Parsi karena karyanya sangat indah dan menyentuh," terang Dirjen.
"Seni dan budaya sangat efektif, diterima, dan berpengaruh secara fundamental bagi masyarakat," pungkasnya.
Sebagai informasi, Pembinaan Seniman dan Budayawan Islam Provinsi Banten merupakan kegiatan Subdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Direktorat Penerangan Agama Islam Kemenag. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Syamsul Bahri pada Rabu (3/8/22).
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Tuntaskan Persoalan Ruislag Tanah Wakaf Terdampak Tol dan Normalisasi Sungai di Semarang
Semarang, Bimas Islam — Kementerian Agama membenahi persoalan tukar-menukar (ruislag) tanah wakaf yang terdampak pembangunan Jalan Tol Semarang–Batang dan…



