Medan, bimasislam ---
Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin menjelaskan panjang lebar tugas dan fungsi Ditjen Bimas Islam di depan 200 tokoh yang menjadi peserta pada kegiatan "Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional" yang digelar di Hotel Aryaduta, Medan, Sumatera Utara, Rabu (5/9).
"Setidaknya ada tiga hal yang menjadi tugas dan fungsi Ditjen Bimas Islam. Tiga hal tersebut adalah bimbingan, layanan, dan pemberdayaan umat Islam di Indonesia," jelas Dirjen.
Terkait dengan bimbingan, kata Dirjen, salah satunya dilakukan oleh Penyuluh Agama Islam (PAI).
"Penyuluh Agama Islam ini melaksanakan delapan materi bimbingan kepada umat yang meliputi antara lain, Keluarga Sakinah, Pemberantasan Narkoba, Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an, Kerukunan Umat Beragama, Pemberantasan Aliran Radikalisme, produk halal, Zakat, dan Wakaf," urainya.
Saat ini, imbuh Dirjen, pihaknya tengah menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo untuk menaikan honor PAI hingga dua kali lipat. "Kami terus memperjuangkan ini, supaya dapat terealisasi pada tahun depan," jelas Dirjen.
Kedua terkait layanan, pria yang juga pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo ini mengatakan, bahwa berdasarkan survei Badan Litbang Kemenag, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait kualitas layanan KUA dalam pencatatan nikah terus mengalami peningkatan.
Keseriusan dalam perbaikan layanan ini, juga menghasilkan penghulu inspiratif yang mendapat apresiasi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yaitu Abdurrahman Muhammad Bakri, seorang Penghulu pada KUA Kecamatan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah.
Dirjen menjelaskan, pihaknya juga memberi apresiasi kepada Muhammad Bakri. "Karena integritasnya, Bakri menerima penghargaan dari Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebagai ASN berintegritas. Saat ini Bakri pun diberi penghargaan untuk menjadi petugas haji Kementerian Agama," papar Dirjen.
Sementara itu terkait dengan fungsi pemberdayaan, Dirjen menjelaskan, bahwa Ditjen Bimas Islam terus menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk memberdayakan ekonomi umat berbasis zakat dan wakaf.
Di bidang zakat, Dirjen menyebut pilot project Kampung Zakat di tujuh lokasi yang merupakan program bersama antara Kemenag, BAZNAS, dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) untuk memberdayakan masyarakat di daerah tertinggal di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, agama, dan sebagainya. Tujuh lokasi tersebut tersebar di NTB, NTT, Maluku Utara, Banten, Bengkulu, Papua Barat, dan Kalimantan Barat.
Sementara di bidang perwakafan, Kemenag juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk memberdayakan wakaf produktif, di antaranya penyediaan rumah susun sederhana sewa bagi masyarakat berpenghasilan rendah di Bojonegoro, Jawa Timur, serta sejumlah proyek wakaf produktif lain yang tersebar di berbagai daerah.
Kegiatan Penguatan Fungsi Agama dalam Pembangunan Nasional dan Temu Tokoh Pemuka Agama ini diikuti 200 orang peserta. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 5 hingga 7 September 2018. Selain Dirjen Bimas Islam, narasumber lain yang dijadwalkan hadir antara lain Komisi VIII DPR RI, Bappenas, MUI, dan Kepala Kanwil Kemenag Sumatera Utara.
Para peserta kegiatan ini terdiri dari tokoh yang mewakili Ormas Islam, MUI Provinsi, komunitas keagamaan Islam, pemuka agama, pengurus DKM, akademisi, praktisi media, hingga elemen mahasiswa.
Penulis : nhkurniawan
Editor : sigit kamseno
Foto : bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



