Jakarta, Bimas Islam -- Penyuluh Agama Islam (PAI) milenial mesti menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara bulat, utuh, dan maksimal.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam), Kamaruddin Amin dalam arahannya pada kegiatan Pembinaan PAI Millenial di Jakarta, Rabu (19/7/2023).
“Pesan keagamaan harus tersampaikan secara bulat, utuh, dan maksimal. Kalian akan mempersempit makna pesan keagamaan yang disampaikan ketika tidak percaya diri tampil di masyarakat. Makna itu akan samar-samar. Maka, kalian harus pintar merasa, membisikkan, dan meyakinkan diri anda bahwa kalian sangat layak memberi penyuluhan kepada masyarakat,” paparnya.
“Jika anda tidak percaya diri, maka itu bukan hanya merendahkan diri anda, tapi juga profesi anda. Hargailah diri anda dan profesi anda agar bisa dipercaya masyarakat,” sambung Dirjen.
Dirjen mengatakan, Profesi PAI merupakan profesi yang mulia, keren, dan berkelas.
“Percaya diri merupakan poin penting bagi profesi apa pun, termasuk PAI. Di mana pun kalian bertugas, seorang penyuluh harus meyakini bahwa profesi PAI setara dengan profesi lain. PAI milenial tidak boleh minder karena profesi yang diembannya. Profesi ini adalah profesi yang mulia, keren, dan berkualitas,” terangnya.
“Kalian telah melalui serangkaian proses yang tidak sederhana. Kalian terseleksi secara alami dan terpilih untuk mengemban tugas ini, sehingga dipastikan kalian adalah orang hebat, berkelas, dan bukan orang sembarangan,” sambung Dirjen.
Profesi PAI, imbuhya, diharapkan menjadi idola bagi generasi milenial, Gen Z, dan masyarakat.
“PAI milenial mesti mampu membentuk pandangan masyarakat bahwa PAI merupakan profesi yang terhormat. Kalian juga harus bisa menempatkan diri sehingga pantas digandrungi dan menjadi idola bagi generasi milenial dan Gen Z. Jika diibaratkan, kalau mau mencari calon suami/istri, idealnya adalah yang berprofesi sebagai PAI,” pungkas Dirjen.
Wcp/Mr



