Jakarta, Bimas Islam – Menteri Agama, Nasaruddin Umar menjelaskan peran Masjid Istiqlal sebagai model masjid inklusif dan ramah lingkungan. Menurutnya, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat yang telah menarik perhatian dunia.
Hal itu disampaikan Menag saat menerima para pemimpin dan anggota The International Partnership on Religion and Sustainable Development (PaRD) di Masjdi Istiqlal, Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menjelaskan bagaimana Masjid Istiqlal menjadi contoh global dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan pembangunan berkelanjutan. “Istiqlal bukan hanya simbol kebesaran Islam di Indonesia, tetapi juga pusat edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan lingkungan yang mengusung konsep eco-friendly mosque,” ujarnya.
Dikatakannya, Masjid Istiqlal memperoleh sertifikasi ekologi, dan menjadikannya sebagai masjid percontohan bagi tempat ibadah lain, baik di dalam maupun luar negeri. “Kami menerapkan konsep keberlanjutan, seperti penggunaan energi surya dan sistem pengelolaan air yang efisien, sebagai bentuk kontribusi masjid dalam pelestarian lingkungan,” tambahnya.
Selain aspek lingkungan, Nasaruddin Umar juga menekankan peran strategis masjid dalam kehidupan sosial masyarakat. Menurutnya, di Indonesia terdapat dua struktur sosial utama yang berpengaruh, yaitu umara (pemerintah) dan ulama (pemuka agama). “Kedua elemen ini harus berjalan beriringan untuk memastikan bahwa nilai-nilai keislaman dapat berkontribusi dalam pembangunan negara,” jelasnya.
Lebih lanjut Menag memaparkan bahwa Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki lebih dari 50 program pemberdayaan. Beberapa di antaranya mencakup pelatihan bahasa Arab, kelas kewirausahaan, hingga program bimbingan bagi perempuan. “Kami bahkan memiliki program persiapan kepemimpinan bagi perempuan, yang saya rasa merupakan program pertama dan satu-satunya di dunia di dalam lingkungan masjid,” ungkapnya.
“Selain itu, kami juga memiliki pusat kebugaran, senam Jumat pagi, serta ruang diskusi yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk komunitas non-Muslim. Ini membuktikan bahwa masjid bisa menjadi ruang interaksi sosial yang luas,” ungkapnya.
Dikatakannya, model ini tidak hanya diterapkan di Indonesia, tetapi juga menarik perhatian dunia. “Al-Azhar University di Mesir bahkan berencana mengadopsi konsep serupa, sementara berbagai negara telah mengirimkan delegasi untuk studi banding guna memahami penerapan masjid inklusif di Indonesia,” imbuhnya.
Peran Masjid dalam Diplomasi Keagamaan Global
Menag juga menekankan bahwa masjid memiliki peran strategis dalam diplomasi keagamaan. Hal ini terlihat dari kunjungan berbagai tokoh dunia ke masjid-masjid di Indonesia, termasuk pejabat dari Kementerian Luar Negeri Jerman-Amerika serta pemimpin agama global seperti Paus.
“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat dialog antaragama dan kerja sama sosial. Ini adalah wujud nyata dari Islam yang moderat dan inklusif,” tegasnya.
Menag berharap agar konsep yang diterapkan di Masjid Istiqlal dapat terus dikembangkan dan diadopsi oleh lebih banyak tempat ibadah di berbagai belahan dunia. “Masjid harus menjadi tempat yang terbuka bagi semua, memberi manfaat bagi umat, dan berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih baik,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Director, International Affairs, World Council of Churches (WCC), Peter Prove menyampaikan apresiasi terhadap program Masjid Istiqlal, serta pendekatan Indonesia dalam mengembangkan masjid sebagai pusat inklusivitas dan pemberdayaan.
“Kami melihat bagaimana masjid di Indonesia mampu menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan keberagaman sosial dan ekonomi. Ini bisa menjadi inspirasi bagi negara lain,” ujarnya.
Dikatakannya, Masjid Istiqlal juga menjadi contoh bagi tempat ibadah di seluruh dunia dalam mengadopsi prinsip keberlanjutan. “Selain itu, Indonesia dalam kemitraan global juga menjadi contoh karena berhasil menghubungkan agama dengan pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan rasa hormat dan apresiasi terhadap Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, yang telah membuka jalan kerja sama antara Indonesia dan PaRD. Menurutnya, sejak pertemuan awal, Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung tujuan-tujuan kemitraan ini.
“Saya masih ingat ketika pertama kali kami berdiskusi tentang kemitraan ini. Hanya dalam dua menit, beliau langsung berkata, ‘Tentu saja, ini sejalan dengan tujuan kita bersama.’ Kemudian ia bertanya kepada rekan-rekannya, ‘Mengapa kita belum menjadi bagian dari kemitraan ini sebelumnya?’” kenang Peter Prove.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia memiliki peran kepemimpinan yang sangat penting dalam kemitraan PaRD, terutama sebagai negara pertama dari Global South yang bergabung dalam kemitraan ini. “Bersama dengan Jerman, yang merupakan anggota pendiri, Indonesia kini memainkan peran kepemimpinan yang kuat dalam komunitas internasional ini,” tambahnya.
Hadir dalam pertemuan itu, Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin, Staff Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan dan Layanan Keagamaan, Pengawasan dan Kerjasama Luar Negeri, Gugun Gumilar, Staff Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu, dan Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi.
An/Mr



