Jakarta, Bimas Islam -- Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin memaparkan empat indikator Moderasi Beragama. Kamaruddin menyampaikan hal ini dalam Dialog Indonesia Bicara TVRI di Jakarta, Selasa (29/11/22) malam.
Prof Kamar, sapaan akrabnya, menyebut toleransi sebagai indikator pertama Moderasi Beragama. Sikap toleran terhadap perbedaan, sambungnya, merupakan salah satu syarat lahirnya kondusivitas bangsa.
"Umat dan warga negara yang baik harus toleran terhadap perbedaan dan realitas yang terjadi di masyarakat," ungkapnya.
Indikator kedua Moderasi Beragama, imbuh Guru Besar Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar ini, adalah nasionalisme. Setiap unsur masyarakat diharapkan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat dalam menaati konstitusi yang disepakati pendiri bangsa.
"Saat mendirikan Negara Madinah, Nabi mengajak seluruh komponen untuk menaati kesepakatan. Indonesia oleh para pendiri bangsa juga disebut sebagai negara kesepakatan. Moderasi Beragama amat menekankan komitmen kebangsaan," sambungnya.
Prof Kamar menambahkan, anti-kekerasan merupakan indikator ketiga Moderasi Beragama. Katanya, tidak ada satu ruang kecil pun untuk berperilaku kasar dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama.
"Tidak boleh melakukan kekerasan, apa pun alasannya. Agama menghadirkan kesejukan, kedamaian, keindahan, dan kebahagiaan. Tidak ada tempat untuk kekerasan," tegasnya.
"Indikator terakhir adalah adaptif terhadap budaya lokal. Kekayaan budaya di Indonesia bukanlah halangan, tetapi sumber kekayaan dan perekat persatuan yang harus dijaga bersama," pungkasnya dalam dialog bertema Implementasi Moderasi Beragama ini.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag: Sulsel Berpeluang Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah di Wilayah Timur Indonesia
Makassar, Bimas Islam — Sulawesi Selatan berpeluang menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di wilayah timur Indonesia. Potensi tersebut…



