Jakarta, Bimas Islam --- Pakar Sejarah, Ahmad Mansyur Suryanegara (AMS) mengupas peran aktif masjid dalam masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Penulis buku Api Sejarah ini menyebutkan, masjid yang digerakkan oleh ulama dan santri merupakan penggerak masyarakat dalam berjuang
"Sejarah para ulama dan santri yang menjadikan masjid dan pondok pesantren sebagai sarana perubahan dan menunjukkan kepada dunia tidak ada bangsa terkuat kecuali yang dipimpin oleh bangsa yang dipimpin oleh ulama dan santri," ungkap Ahmad dalam Obrolan Seputar Soal Islam (Obsesi) Bimas Islam yang dihelat secara virtual, Senin (30/8/21).
Ahmad menceritakan, Bung Karno sebagai proklamator telah menunjukkan bahwa bangunan pertama yang dibangun di Yogyakarta pada masa perjuangan kemerdekaan adalah masjid. Bahkan, katanya, penamaan masjid ini menunjukkan pemahaman mendalam Bung Karno terhadap peran ulama dan santri di masa perjuangan.
"Maka bangunan pertama yang dibangun di Yogyakarta adalah Masjid Syuhada. Kita renungkan sejenak, pemerintah mengakui sebesar-besarnya bahwa diantara yang paling depan, paling besar dalam memberikan pengorbanan dalam perjuangan adalah para syuhada (orang yang meninggal karena berjuang)," tambahnya.
Dalam dialog yang dipengantari oleh Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar ini, Ahmad juga menambahkan data sejarah terkait peran ulama dan santri di masa perjuangan kemerdekaan. Secara khusus, Ahmad menyampaikan peran Syekh Hasyim Asyhari yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
"Salut dan hormat tertinggi kepada Hadratussyaikh Hasyim Asyhari sebagai tokoh terdepan dan berani melawan penjajah dan kemudian mengadakan satu pengumuman menentang penjajah yang sekarang diperingati sebagai Hari Santri setiap 22 Oktober," terangnya.
"Hasyim Asyhari tidak takut dengan senjata canggih para penjajah karena memiliki santri yang berjiwa besar untuk merdeka, lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup dijajah. Semangat yang dahsyat sekali," tegasnya.
Dialog bertema Peran Masjid Dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Refleksi Kekinian ini juga menghadirkan penulis buku Dari Panggung Sejarah, Lukman Hakiem. Acara yang dimoderatori oleh Pranata Humas Muda Ditjen Bimas Islam, Sigit Kamseno ini diikuti lebih dari 600 peserta melalui Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung di Kanal YouTube Bimas Islam TV.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



