Tangerang Selatan, Bimas Islam – Masjid Raya Bintaro Jaya menjadi salah satu masjid yang dikunjungi 25 content creator dalam program Masjid Travelers 2025. Program ini digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama untuk mengeksplorasi masjid berdaya dan berdampak.
Masjid Raya Bintaro Jaya sendiri memiliki sejarah panjang. Masjid ini berdiri sejak 1967 dan pada tahun 2017 pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Selama tiga tahun terakhir, masjid ini berhasil meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam audit keuangan. Dari sisi pemberdayaan, masjid ini melayani 2.200 mustahik melalui program ketahanan pangan, pelayanan kesehatan gratis, zakat fitrah, serta qardhul hasan untuk mustahik yang memiliki usaha.
Tidak hanya itu, Masjid Raya Bintaro Jaya juga mendampingi 1.500 UMKM dalam peningkatan kualitas produk, menyalurkan 1.000 gerobak berkah, serta menggerakkan program pengentasan kemiskinan. Masjid ini dikelola secara mandiri dengan mendukung fungsi masjid 4.0, yaitu sebagai Baitullah, Baitul Qur’an, Baitul Mal, Baitul Muamalah, dan Baitul Dakwah. Aktivitasnya pun disiarkan melalui MRBJ TV.
Ketua Yayasan Masjid Raya Bintaro Jaya, Prastowo M. Wibowo, menjelaskan, masjid ini berupaya menjadi pusat peradaban Islam modern. “Masjid tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah. Kami berusaha mengelola keuangan sesuai regulasi, memiliki izin Lembaga Amil Zakat sesuai UU No. 23 Tahun 2011, dan laporan kami diaudit oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Melalui Baitul Muamalah, kami menghadirkan dapur umat berupa kafe, food court, co-working space, hingga creative hub. Semua hasilnya dialokasikan untuk infak masjid,” jelasnya.
Prastowo juga mengatakan bahwa Masjid Raya Bintaro Jaya aktif menjalankan program inklusif, mulai dari layanan untuk penyandang disabilitas, gerakan sedekah sampah, donor darah, hingga pembinaan anak-anak pemulung yang belajar Al-Qur’an dan bahasa Inggris. Selain itu, terdapat program beasiswa untuk anak yatim dan duafa yang mendapat biaya pendidikan setiap bulan.
“Kami memiliki lebih dari 700 santri yang belajar setiap Senin hingga Jumat, dibimbing oleh 80 ustazah. Masjid ini juga menjadi pusat aktivitas ramah lingkungan dengan penerapan eco-masjid, seperti penggunaan energi surya, sumur resapan, penghijauan, hingga pengisian kendaraan listrik umum,” tambahnya.
Ia menilai kehadiran para content creator dalam program Masjid Travelers akan memperluas jangkauan dakwah masjid. “Melalui jari dan konten kreatif, dakwah yang sahabat-sahabat sampaikan akan tercatat sebagai amal. Kreativitas ini luar biasa, dan semoga bisa menyebarkan kebaikan yang tumbuh di Masjid Raya Bintaro Jaya ke masyarakat luas,” pungkasnya.
Kepala Subdirektorat Kemasjidan, Nurul Badruttamam, menyampaikan apresiasi kiprah Masjid Raya Bintaro Jaya sebagai salah satu wajah baru masjid Indonesia. Menurutnya, masjid ini telah mampu menghadirkan inovasi sekaligus meneguhkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat. “Masjid ini memberikan contoh konkret bahwa masjid bisa menjadi ruang pemberdayaan dan kemandirian ekonomi jemaah,” ungkapnya.
Nurul berharap, kehadiran content creator Masjid Travelers 2025 di Masjid Raya Bintaro Jaya menjadi momentum untuk memperkuat peran masjid di era digital. “Kolaborasi dengan para content creator Gen Z ini adalah langkah strategis agar pesan dakwah dan program pemberdayaan masjid bisa tersebar lebih luas melalui platform media sosial,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa Kementerian Agama mendorong lahirnya masjid berdaya dan berdampak di berbagai daerah. “Kita ingin masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan,” tuturnya.
“Masjid Raya Bintaro Jaya membuktikan bahwa dengan tata kelola yang baik, transparansi, dan inovasi, masjid bisa menjadi role model. Semoga praktik baik ini menginspirasi masjid lain di seluruh Indonesia,” pungkas Nurul.
Mr



