Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Kementerian Agama, Adib menyampaikan, penyuluh dan penghulu peserta Bimtek SPARK (Seleksi Penyuluh dan Penghulu Aktor Resolusi Konflik) mesti peka terhadap potensi konflik untuk membangun kerukunan umat beragama. Hal itu ia sampaikan saat ditemui wartawan Bimas Islam, Senin (8/5/23) di Jakarta.
"Moderasi beragama saya ibaratkan seperti pupuk, dengan moderasi beragama akan menumbuhsuburkan kerukunan umat beragama. Tetapi di sisi lain, tidak cukup dengan memupuk begitu saja, bisa jadi ada hama, ada faktor-faktor pemicu perpecahan. Inilah pentingnya deteksi dini. Ada peringatan dini, ada agen-agen yang melakukan upaya itu," tuturnya.
Menurutnya untuk menjaga keharmonisan umat beragama, faktor pemicunya juga perlu diberantas agar kemunculan perpecahan dapat dihindari sejak awal.
Ia melanjutkan, program SPARK bertujuan untuk membangun kompetensi para penyuluh dan penghulu seluruh Indonesia yang sudah melewati proses seleksi. Dari pendaftar sebanyak 800 orang disaring menjadi 50 orang. Penyuluh dan penghulu terpilih akan menjadi aktor untuk mengatasi konflik sosial berdimensi keagamaan.
"Program ini bertujuan untuk membangun kompetensi para penyuluh dan penghulu yang memiliki wawasan keterampilan dan komitmen dalam menangani konflik sosial berdimensi keagamaan, sehingga mereka paham mengatasi persoalan-persoalan, dimulai dari proses deteksi dan pencegahan sejak dini," jelas Adib.
Terakhir, Adib menegaskan, moderasi beragama ini harus terus diperkuat, agar dapat membangun kerukunan umat beragama.
"Moderasi beragama harus kuat dan pencegahan terhadap konflik harus dilakukan beriringan," pungkasnya.
Msk/Mr



