Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Adib menyampaikan, puasa tidak hanya bermakna transendental, tapi bermakna profetik. Menurutnya, Ibadah puasa secara profetik mengarah pada pembentukan kepribadian seorang muslim.
Hal itu disampaikannya saat mengisi Kultum Hikmah Ramadan bertema ‘Mengungkap Makna Profetik Ibadah Puasa’ yang digelar di Masjid Al-Ikhlas Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Selasa (4/4/2023).
“Ibadah puasa secara profetik adalah ibadah yang memperkokoh keimanan kita kepada Allah SWT. Profetik memiliki tiga pilar, humanisme, liberasi, dan transendental," ucapnya.
Menurutnya, puasa juga memiliki nilai humanisme. Orang yang berpuasa, imbuhnya, harus mampu meningkatkan kepekaan sosial. Dengan berpuasa, seorang muslim akan mampu merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan.
Ia menambahkan, puasa juga memiliki nilai liberasi, pembebasan dari kungkungan hawa nafsu yang terus memperdaya diri, yang berpotensi menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.
“Puasa itu memiliki nilai transendental, ibadah puasa itu adalah ibadah yang betul-betul memperkokoh keimanan kita kepada Allah SWT, karena pribadi yang puasa sesungguhnya adalah pribadi yang meyakini kehadiran Allah SWT, meskipun tidak ada orang di sekitar kita,” tambahnya.
Secara profetik, ibadah puasa sesungguhnya mampu melipatgandakan kepekaan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Wcp/Mr



