Bandung, Bimas Islam — Perempuan memegang peran penting dalam menciptakan perdamaian dan menjaga harmoni sosial, terutama di wilayah rawan konflik. Keterlibatan perempuan dalam proses ini bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga untuk mengoptimalkan hasil perdamaian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Yayasan Bhakti Budhi Pertiwi, Siti Hanifah Haris mengatakan, perempuan sering kali menjadi korban terbesar dalam konflik, termasuk kekerasan seksual berbasis gender (SGBV) dan beban ganda sebagai penjaga rumah tangga dan pekerja. "Perempuan harus terlibat dalam proses perdamaian agar solusi yang dihasilkan lebih komprehensif dan adil," jelas Hanifah dalam Dialog Pemuda Lintas Paham Keagamaan Islam di Bandung, Kamis (5/8/2024).
Ia menjelaskan, perempuan dikenal sebagai penjaga kehidupan, sehingga memiliki potensi besar untuk menjaga perdamaian. Sifat pengasuhan yang alami memungkinkan perempuan berperan penting dalam mediasi konflik dengan empati dan pemahaman yang diperlukan untuk menjembatani perbedaan.
Kemampuan komunikasi perempuan juga memainkan peran penting dalam mendeteksi dan menangani ketegangan situasi. "Kemampuan perempuan membaca lingkungan dan mendeteksi tanda-tanda awal konflik menjadikan mereka agen perdamaian yang efektif," tambah Hanifah.
Kepemimpinan perempuan sering kali bersifat kolektif, melibatkan banyak pihak dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini lebih inklusif dan cenderung mendorong solusi yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat luas.
Menurut Siti, melibatkan perempuan dalam menjaga perdamaian tidak hanya memberdayakan mereka, tetapi juga mematahkan stereotip bahwa perempuan hanya korban pasif. "Inisiatif perdamaian yang melibatkan perempuan terbukti membawa isu-isu penting seperti pendidikan dan kesehatan ke meja perundingan, yang berkontribusi pada stabilitas jangka panjang," ungkapnya.
Fn/Mr



