Jakarta, Bimas Islam – Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin menjelaskan, makna agama tidak boleh direduksi dengan hanya mengurus persoalan akhlak, moralitas, dan hal-hal yang bersifat eskatologi (akhirat). Menurutnya, agama juga harus hadir dalam ruang politik, ekonomi, dan budaya.
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Dialog Ormas Islam Tingkat Nasional bertema Penguatan Moderasi Beragama untuk Kerukunan Bangsa dan Negara (Perspektif Organisasi Kemasyarakatan Islam), Selasa (30/5/2023) di Jakarta.
“Rasanya, kita mereduksi makna agama jika kita hanya bicara tentang akidah, teologi, akhlak, tasawuf, ibadah, dan seterusnya. Agama harus bicara tentang seluruh persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, seperti ekonomi dan budaya, bahkan bicara tentang politik,” jelasnya.
Kamaruddin mencontohkan, filantropi Islam misalnya, merupakan konsep yang sangat fundamental, namun belum terkapitalisasi secara proporsional. Potensi zakat wakaf di Indonesia menurutnya sangat luar biasa.
“Menurut penelitian yang dilakukan oleh berbagai lembaga, potensi zakat di Indonesia itu hampir 400 triliun setiap tahunnya," tuturnya.
Kamaruddin memaparkan, LAZ di Indonesia hampir berjumlah sebanyak 600, 142 Lembaga Amil Zakat itu berhasil mengumpulkan sekitar Rp22 triliun pada tahun 2022. "Tahun ini kita targetkan sekitar Rp37 triliun. Dalam 5-10 tahun ke depan, kita berharap bisa terkumpul di atas Rp100 triliun," ujarnya.
“Potensi zakat sampai hampir Rp400 triliun, tapi mengapa terkumpul 22 triliun? Itu artinya, tingkat kepatuhan dan kesadaran terhadap salah satu rukun Islam yang sangat fundamental tidak maksimal,” ungkapnya.
“Umat Islam merasa sangat berdosa jika tidak salat, tapi mengapa ketika tidak melaksanakan zakat mal, kita merasa tidak seperti itu? Jangan-jangan ada korelasinya dengan pemahaman dan pengamalan,” imbuhnya.
Menurut Kamaruddin, angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Masih sekitar 5 juta warga negara Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem.
“Filantropi (zakat dan wakaf) ini bisa menjadi instrumen powerful yang strategis mengatasi problem keumatan dan kebangsaan,” terangnya.
“Dakwah harus dilaksanakan, peningkatan literasi masyarakat harus kita tingkatkan. Ormas-ormas Islam selama ini sudah kontribusi sangat luar biasa, namun kita belum mengatur langkah strategis untuk membawa agama dalam pergumulan sosial,” pungkasnya.
Ba/Mr



