Jakarta, Bimas Islam -- Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin mengungkapkan, di era digital hari ini, media sosial tengah diisi dengan kontestasi perebutan pengaruh paham keagamaan. Pertarungan media sosial saat ini menjadi lebih challenging, sebab paham keagamaan ekstrem juga dengan cepat menyebar.
Hal itu dikatakan Dirjen pada kegiatan Bimtek Literasi Digital 2 di Jakarta, Kamis (22/06/23), yang diikuti 75 Penyuluh Agama Islam (PAI) terseleksi.
Dirjen menegaskan, peran penyuluh di ruang digital harus kuat. "Teman-teman penyuluh sebagai entitas yang terus berdialektika, berdinamika dengan realitas sosial keagamaan, memainkan peran yang sangat penting. Maka dari itu engagement (keaktifan) di ruang digital menjadi sangat fundamental," tegasnya.
Kamaruddin merujuk temuan penelitian yang dilakukan PPIM UIN Jakarta, yang menyatakan bahwa diskursus agama di media sosial telah didominasi kelompok kanan yang mempromosikan agama konservatif.
"Jadi konservatisme, bahkan ultra konservatisme itu mendominasi diskursus atau wacana keagamaan di media sosial," kata Kamaruddin.
Temuan utama penelitian tersebut adalah adanya dominasi narasi paham keagamaan konservatif di media sosial. Walaupun pemahaman keagamaan lain juga banyak mewarnai diskursus agama, terutama di platform twitter, namun dengung konservatisme menguasai perbincangan di ranah maya dengan persentase (67.2%), disusul dengan moderat (22.2%), liberal (6.1%), dan Islamis (4.5%) sejak 2009-2019, penggunaan hashtag (tanda pagar, tagar) yang bersifat konservatif menjadi yang paling populer. Hashtag yang bersifat netral penggunaannya bahkan kerap dikaitkan dengan paham keagamaan konservatif.
Maka Dirjen mengatakan, keaktifan para penyuluh dalam menebar paham moderat di media sosial, akan mampu mengimbangi, bahkan melampaui paham-paham keagamaan ekstrem yang tersebar.
Msk/Mr



