Denpasar Selatan, Bimas Islam-- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin memaparkan peran Kemenag dalam penanganan konflik sosial dan tantangan ekologis. Menurutnya, konflik global, kekerasan, dan penggunaan agama untuk membenarkan tindakan destruktif menjadi ancaman serius. Ia mengatakan, Kemenag selalu berkolaborasi dengan tokoh agama dalam menciptakan solusi produktif yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ini tantangan bagi kita semua untuk secara kolektif merespons realitas yang sangat mengancam ini,” ujar Kamaruddin dalam kegiatan Bali Interfaith Movement di Denpasar Selatan, Sabtu (14/12/2024).
Selain isu dehumanisasi, Kamaruddin juga menyoroti masalah ekologis yang semakin parah secara global. Ia menekankan pentingnya langkah nyata untuk mengatasi perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
“Tokoh agama harus terlibat secara intensif dan kontributif dalam mengatasi masalah ini. Ini tidak bisa hanya menjadi wacana,” tegasnya.
Kamaruddin menjelaskan, Kemenag telah mengambil langkah melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah program penyuluh agama yang tidak hanya berdakwah tetapi juga aktif menanam pohon dan mengajak masyarakat melakukan mitigasi perubahan iklim. Selain itu, Kemenag akan membangun 160 Kantor Urusan Agama (KUA) berbasis ramah lingkungan pada 2025.
“KUA yang akan kita bangun semuanya berbasis konsep green building. Desainnya sudah dirancang dengan Bappenas agar ramah lingkungan, dilengkapi dengan pohon, sirkulasi air, dan panel surya,” jelas Kamaruddin.
Upaya tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani pada 5 September 2024 oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dan Paus Fransiskus. Selain membahas perjanjian kerukunan umat beragama, deklarasi ini juga memberi rekomendasi dan respons terhadap isu lingkungan serta kemanusiaan.
Deklarasi Istiqlal, lanjutnya, menjadi wadah untuk menyatukan komitmen seluruh elemen masyarakat, termasuk Kemenag. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya berupa diskusi, tetapi juga diikuti dengan aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kita tidak ingin hanya berwacana. Program ini diarahkan untuk menghasilkan langkah konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkas Kamaruddin.
Ia juga menegaskan bahwa peran agama tidak hanya sebagai pilar spiritual, tetapi juga agen perubahan sosial dan lingkungan. Deklarasi Istiqlal diharapkan menjadi tonggak untuk menciptakan harmoni antarmanusia sekaligus menjaga kelestarian bumi.
Fn/Mr



