Jakarta, Bimas Islam --- Tasawuf merupakan salah satu ajaran Islam terkait cara mensucikan diri. Dalam setiap ibadah yang Tuhan syariatkan selalu terkandung makna tasawuf di dalamnya. Termasuk dalam ibadah puasa di bulan Ramadan.
Ajaran tasawuf terkait puasa inilah yang disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Islam, Kamaruddin Amin saat menjadi narasumber dalam program Islam Itu Indah di Trans TV, Selasa (13/4/21).
"Puasa jangan hanya dilihat dari sesuatu yang membatalkan dan tidak membatalkan. Itu terlalu elementer dan dasar. Seharusnya kita memahami bahwa puasa merupakan medium komunikasi personal yang sangat pribadi antara kita dengan Allah," ungkapnya.
Guna menggapai kesuksesan dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, lanjut Dirjen, umat Islam harus menjalankan semua jenis ibadah dengan penuh keikhlasan.
"Jadikan puasa sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah agar bisa mentransformasi perilaku dan sikap kita terutama hubungan kita dengan Allah dan sesama," tambahnya.
Dirjen juga menyatakan, puncak dari keberhasilan ibadah puasa terjadi saat umat Islam mampu merasakan kehadiran Allah di dalam diri dan kesehariannya.
"Puasa merupakan sarana untuk mengendalikan diri sehingga kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam diri. Saat berpuasa, hanya Allah dan kita yang tahu. Kita harus merasakan bahwa Allah hadir dalam kehidupan kita," lanjutnya.
Dengan demikian, pungkas Dirjen, saat seseorang selesai melakukan puasa Ramadan, dia akan selalu merasakan kehadiran Allah pada saat sakit, di musala, masjid, jalan, hotel, pasar, di mana pun.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



