Jakarta, Bimas Islam --- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kemenag RI, Kamaruddin Amin menerangkan bahwa tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak bertobat ketika tergelincir pada perbuatan dosa, berapa pun besarnya itu. Ia menegaskan, rahmat Allah sangat agung untuk mengampuni besaran dosa hamba-Nya.
“Dosa besar yang dilakukan umat Islam tidak akan menyebabkannya menjadi kafir, maka berhati-hatilah untuk tidak melabeli seseorang dengan julukan kafir. Sebab jika ia bertobat dari dosa yang dilakukan, tentu Allah berkehendak mengampuninya,” ungkapnya saat mengisi kajian rutin _Kitab Shahih Bukhari_ Seri Ke #15 di kanal YouTube Bimas Islam TV, diakses Selasa (25/1/2022).
Dirjen mengutip ayat Al-Qur’an yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, Allah mengampuni selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa: 48).
“Maksud ayat tersebut, Allah akan mengampuni sebesar apa pun dosa hamba-Nya bagi yang dikehendaki, kecuali dosa syirik. Akan tetapi jangan dianggap enteng, tentu harus dengan syarat-syarat tertentu juga agar dosa kita diampuni,” ungkapnya.
Dirjen menjelaskan, pokok utama dalam bertobat adalah tobat nasuha, yaitu dilakukan dengan sungguh-sungguh terhadap dosa-dosanya. Sebab menurutnya, tobat nasuha adalah bentuk permohonan ampun tertinggi.
“Artinya kita berkomitmen secara sungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa untuk selama-lamanya. Kendati Allah swt sungguh Maha Penerima Tobat, tapi jangan pernah sekali pun menganggap enteng dengan sengaja mengulangi perbuatan dosa. Hal itu sama saja dengan meremehkan agama,” pungkasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



