Jakarta, bimasislam-- Seiring dengan telah diakreditasinya Jurnal Bimas Islam (JBI) pada tahun 2016, keberadaannya kini seolah menjadi mutiara yang banyak dicari baik birokrat, peneliti, akademisi hingga penyuluh agama Islam fungsional. Sebagaimana sifatnya, karya tulis ilmiah berbentuk jurnal terakreditasi dapat memberi angka kredit untuk kebutuhan akademik seseorang. Hal itu disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin saat memimpin rapat redaksi dan evaluasi Jurnal Bimas Islam di Jl. MH. Thamrin no.6 Jakarta Pusat, Selasa, (9/1).
Dikatakan Muhammadiyah Amin, akreditasi yang telah didapat JBI merupakan capaian prestasi membanggakan karena disaat yang sama banyak universitas yang tidak memilikinya. Oleh karena itu harus dipertahankan. “Saya kira ini perlu di apresiasi, ini hasil kerja keras kita, membanggakan karena banyak universitas yang tidak memiliki Jurnal terakreditasi, ini pasti dinanti masyarakat dan harus dipertahankan, jangan sampai lepas akreditasinya ditahun mendatang”, ujarnya.
Mantan rektor IAIN Gorontalo ini berharap kedepan JBI ada diseluruh perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia karena kontennya sangat dibutuhkan. “Melihat masih rendahnya referensi keislaman yang aktual, saya ingin Jurnal ini harus ada di perpustakaan perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan Ormas Islam, ini sangat dibutuhkan, jika memungkinkan opelahnya juga diperbanyak agar lebih banyak yang membaca”, harap Guru Besar Ilmu Hadis ini.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Zakat Wakaf, Fuad Nasar menegaskan bahwa JBI merupakan wujud nyata visi pencerdasan dari Ditjen Bimas Islam kepada masyarakat. Menurtnya, lietrasi keislaman saat ini sangat terbatas sehingga kehadiran JBI menjadi sangat penting.
“Kebutuhan terhadap literasi keislaman Indonesia masih sangat tinggi dan sampai saat ini produknya sangat terbatas, saya kira Jurnal ini cukup representatif”, terang Fuad.
Selain itu, Fuad berhadap keberadaan Jurnal Bimas Islam dapat memberi perspektif baru tentang Islam Indonesia di dunia luar. “Saya kira perlu dipikirkan, kedepan Jurnal ini ada versi bahasa asing, kita juga perlu mengenalkan wajah intelektual muslim di luar negeri”, pungkasnya.
Tahun 2017, Jurnal Bimas Islam Resmi Gunakan OJS
Untuk diketahui, mulai tahun 2018, JBI akan menggunakan sistim baru dalam pengelolaan artikel dan penerbitan. Salah satu standar yang akan dieterapkan adalah Open Journal System atau yang akrab disapa OJS. OJS ini menjadi keharusan karena pantauan dari LIPI tidak lagi manual, semua proses artikel masuk hingga publish akan ter record di OJS dan itu dalam pantauan LIPI.
Sejauh ini JBI melibatkan beberapa guru besar yang ahli dalam berbagai bidang. Untuk edisi tahun 2018, beberapa profesor dilibatkan sebagai mitra bestari, di antaranya, Prof Quraish Shihab, Prof Nasaruddin Umar, Prof Machasin dan Prof Muhammadiyah Amin.
(syam/bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



