Jakarta, bimasislam—Kemitraan Bimas Islam dan Majelis Ulama Indoensia (MUI) telah terjalin sejak lama. Kemitraan ini tidak sebatas bantuan operasional, akan tetapi penguatan dakwah di wilayah tertentu. Karena itulah, kemitraan antar keduanya perlu terus ditingkatkan guna menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas. Hal ini mengemuka dalam pertemuan Dirjen Bimas Islam dan Komisi Bidang Pendidikan MUI, Senin (21/8). Hadir dari unsur MUI diantaranya Prof. Dr. Sudarnoto, Dr. Abdul Mu’in Ritonga, KH. Wahfiudin, Dr. Tuty Marlani, Ulfa Wundari, Sugiharto dan Siti Ma’rifah. Dirjen Bimas sendiri didampingi para pejabat eslon II dan III pada Ditjen Bimas Islam.
Dalam paparannya, Sudarnoto menyampaikan bahwa MUI telah memberikan perhatian serius terhadap pendidikan, terutama dalam pencegahan radikalisme dan pornografi. Menurutnya, pendidikan yang sehat secara ideologis sangat penting bagi masa depan generasi muda. jangan sampai generasi muda dicekoki paham-paham yang potensial merusak mental dan akidah kebangsaan. Program Pendidikan Kader Ulama (PKU), ia menyebutkan, sebagai bentuk terobosan MUI dalam menyediakan para pendidika yang handal dalam wawasan keislaman yang moderat.
“MUI dalam dua tahun ini juga telah menjalin kerja sama dengan UIN Jakarta dalam program doktoral dengan tema Pendidikan Kader Ulama (PKU). Hal ini juga kami kerjasamakan dengan Ditjen Pendis Kemenag. Kita harapkan alumni PKU ini dapat mengabdi di masyarakat memperkuat dakwah yang telah terbangun selama ini,” ungkapnya.
Hal yang sama diperkuat oleh Dr. Abdul Mu’in Ritonga. Pihaknya mengapresiasi inisiasi Bimas Islam menjembatani pengiriman imam ke luar negeri. Menurutnya, para imam tidak sebatas bertugas memimpin ibadah sholat, namun dapat berfungsi sebagai duta bangsa. Karena itulah, pihaknya siap bekerjasama memperkuat kompetensi para imam yang akan dkirim selanjutnya.
Menanggapi berbagai harapan dan masukan, Dirjen Bimas Islam menyambut baik inisiatif MUI untuk ikut memperkuat program-program pengkaderan di lingkungan Bimas Islam. Muhammadiyah Amin memaparkan, pihaknya kita tengah fokus pada penguatan penyuluhan dan pelayanan di wilayah 3T (terluar, terdepan, terdalam). Selain menyediakan tenaga penyuluh yang handal, pihkanya juga telah bekerja sama dengan instansi pemerintahan untuk mengoptimalkan keberadaan penyuluh di wilayah 3T.
“Kominfo telah bekerjasama dengan Bimas Islam melalui pemberdayaan penyuluh di wilayah 3T. Mereka ini akan berada dalam pengawasan KOminfo sebagai juru penerang. Kami kira ini sebuah kerjasama yang saling menguntungkan terhadap layanan publik,” ungkapnya.
Terkait pengiriman imam ke luar negeri, pihaknya siap bermitra dengan MUI, terutama dalam peningkatan kapasitas kemampuan bahasa. Mantan Rektor IAIN Gorontalo ini menyatakan kesiapannya untuk melibatkan MUI dalam seleksi dan pembekalan para imam ini. Begitu pula dengan program PKU, pihaknya siap menjembatani dengan para pemangku kepentingan di daerah, khususnya Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
“Kemarin kita mengirim 14 imam dari Uni Emit Arab (UEA). Bukan hanya EUA, ada juga permintaan imam dari negara-negara eropa. Pak Menteri menginginkan agar calon imam ini dibekali bahasa. Mungkin nanti MUI yang akan melakukan pembekalan bahasa,”pungkasnya.
(Jaja Zarkasyi-Arif/foto:bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



