Depok, Bimas Islam --- Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengungkap penghambat perkembangan wakaf uang di Indonesia. Dirjen mengatakan, potensi wakaf uang di Indonesia sebesar Rp180 triliun, namun pengumpulannya baru mencapai Rp819,36 miliar.
“Penghambat utama perkembangan wakaf uang adalah literasi. Pasalnya masalah literasi diatasi, persoalan selanjutnya mudah terselesaikan,” katanya saat membuka Pembinaan bertajuk ‘Spirit Berwakaf Uang Guna Kesejahteraan Umat’ di Depok, Kamis (10/6).
Dirjen mengatakan, peningkatan literasi adalah urgensi untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam wakaf uang yang diluncurkan Presiden Jokowi pada Januari 2021.
“Tidak mungkin masyarakat bisa berpartisipasi kalau literasinya rendah,” ujarnya.
Dirjen menilai, penyebab utama rendahnya literasi masyarakat adalah, kurangnya kurikulum wakaf di lembaga pendidikan. Dari Tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi minim membahas soal wakaf. Kecuali lembaga pendidikan berlatar belakang agama, memiliki kurikulum wakaf, namun hanya di permukaan.
“Lembaga pendidikan Islam memang memiliki kurikulum wakaf, namun masih berisi fiqh oriented. Itu belum cukup untuk meningkatan partisipasi masyarakat untuk berwakaf uang,” urainya.
Dirjen menyatakan, perlu adanya sinergi antara Kemenag dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan peningkatan literasi masyarakat soal wakaf. Menurutnya, para LKSPWU bisa menggarap literasi milenial melalui media sosial dan Kemenag melalui pengajian yang melibatkan penceramah dan penyuluh agama Islam.
“Jika semua kalangan digarap, saya yakin literasi masyarakat soal wakaf akan meningkat dan pengumpulan dapat mencapai potensi yang ada,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



