Teluk Betung Utara, bimasislam --- Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan. Agama Islam memiliki arti “penyerahan”, yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama yang bermakna keselamatan.
Demikian diuraikan Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin, saat menyampaikan sambutan bertajuk “Moderasi Agama: Memperkuat Persatuan Bangsa” pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di Hotel Swissbell, Teluk Betung Utara, Sabtu (28/7).
Dirjen juga menjelaskan, bahwa wasatiyah atau moderasi adalah sikap yang memosisikan diri di tengah-tengah, dalam arti tidak melakukan hal-hal yang berlebihan dan tidak pula memangkas ajaran agama, namun memegang teguh prinsip-prinsip di dalam agama.
Dengan demikian, Guru Besar Ilmu Hadits UIN Alauddin Makassar itu menyimpulkan bahwa Islam Wasatiyah adalah Islam jalan tengah, yang tidak terjebak pada dua ekstrimisme.
“Islam wasatiyah bermakna Islam jalan tengah, tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan. Tidak liberal dan tidak radikal. Kita memilih Islam wasatiyah bagi bangsa kita yang majemuk, dengan harapan agar bangsa kita bisa terus rukun, aman, damai, dan tidak terpecah belah. Lebih dari itu, Islam wasatiyah sejatinya memang merupakan watak Islam itu sendiri, hakikat Islam itu sendiri. Oleh karena itu kita perlu mengedepankan konsep Islam wasatiyah ini, bahkan sejak masih di dalam pikiran. Karena pikiran itulah yang akan melahirkan sikap dan tindakan,” urainya.
Dikatakan Dirjen, sikap beragama yang pertengahan seperti inilah yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai di dalam Pancasila.
“Dalam konteks keadaban bangsa Indonesia yang majemuk, moderasi agama dan persatuan nasional merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sikap beragama yang tidak melampaui batas, secara otomatis akan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keyakinan ini sejatinya telah menjadi ruh dalam pembangunan nasional dalam konteks tugas dan fungsi Kementerian Agama, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam,” ujarnya.
Rakernas PERTI Digelar selama tiga hari dari tanggal 27 Juli 2018 dan akan berakhir pada tanggal 29 Juli esok. Acara tersebut dihadiri oleh 300 pengurus PERTI dari seluruh Indonesia dan dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sejumlah tokoh tampak hadir dalam acara tersebut, antara lain Ketua MPR Zulfkifli Hasan, Gubernur Lampung Ridho Ficardo, Ketua Umum PP PERTI Basri Bermanda, para tokoh agama, jajaran TNI-Polri, dan lain-lain.
Penulis: Sigit
Editor: Sigit
Foto: Bimas Islam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



