Makassar, Bimas Islam – Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin mengatakan, penceramah dan penyuluh harus dilatih untuk lebih aktif mengisi ruang spiritualitas di media sosial, mengingat maraknya wacana keagamaan di Media Sosial (Medsos) yang mereduksi makna agama itu sendiri.
Hal itu disampaikannya saat memberi arahan pada kegiatan Konsolidasi Kelembagaan KUA dan Manajemen Kinerja Pimpinan Satker Tingkat Kabupaten/Kota se-Indonesia Batch 4 Angkatan VII di Makassar, Sabtu (24/6/2023).
“Para penceramah dan penyuluh harus kita berikan pelatihan serius terkait literasi digital. Mereka harus terlibat mengisi ruang spiritualitas di media sosial. Di era ini, kita tidak mungkin lagi memenangkan kontestasi di dunia maya jika kita tidak terlibat secara aktif,” jelasnya.
Kamaruddin mengaku terkejut dengan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga, di antaranya PPIM 2-3 tahun yang lalu tentang wacana keagamaan di media sosial. "Ternyata tiga tahun yang lalu hasilnya jomplang sekali. 76% wacana keagamaan di media sosial didominasi oleh konservatif bahkan oleh ultranasional," terangnya.
“Namun setelah covid-19, mulai bergeser cukup signifikan. Seperti hasil penelitian BNPT, kelompok moderat sudah mulai naik. Para ustaz dan kiai kita sudah bisa berceramah bisa melalui YouTube. Mereka terlibat dalam wacana keagamaan di media sosial sehingga konten tidak sepenuhnya lagi dikuasai kelompok konservatif,” paparnya.
Kamaruddin mengatakan, aliran konservatif merupakan sebuah paham keagamaan yang ingin mengembalikan agama kepada saat agama tersebut diturunkan. Paham yang ingin berperilaku dan bersikap seperti di masa nabi dan sahabat dulu. Paham ini alergi terhadap isu-isu modernitas, resisten terhadap isu-isu pembangunan, dan tidak tertarik membawa agama dalam isu-isu kehidupan kekinian.
“Tentu ini berbahaya kalau agama direduksi maknanya. Jika hanya berurusan ibadah, akhlak, eskatologis atau ukhrawi saja, maka agama akan tereduksi luar biasa. Orang bisa memandang agama itu urusan agama pribadi, privat. Agama di masjid saja. Agama di kamar saja. Agama tidak perlu terlibat dalam kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, berbangsa dan bernegara. Apalagi isu-isu global, mereka tidak tertarik membahas isu-isu global. Di sinilah kelemahan fundamental pemahaman konservatif ini," tutur Kamaruddin.
Karenanya, Kamaruddin berharap, Kankemenag kabupaten/kota menyadari dan mengambil langkah teknis. "Kalau kita tidak mengambil langkah, jangan bersedih jika generasi anak dan cucu kita mendatang memiliki paham keagamaan yang sama sekali berbeda dengan yang kita yakini sekarang ini," pungkasnya.
Ba/Mr
*Fotografer: Rizal
*Fotografer: Rizal



