Jepara, bimasislam-- Sebagai negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, Indonesia tentu memiliki banyak sekali bukti sejarah masuk dan berkembangnya Islam dari daerah asalnya, Timur Tengah. Salah satu yang menyimpan bukti sejarah penting Islam berkembang dengan baik adalah Kabupaten Jepara, sebuah kota di ujung utara pulau Jawa. Bukti itu melekat pada dua masjid yang hingga kini kokoh dan ramai digunakan warga.
Dikenal sebagai kota penghasil pahatan (ukiran) sekaligus memiliki obyek wisata kelas dunia, masyarakat Jepara tak lantas menggeser rumah ibadah sebagai warisan yang mesti dijaga. Terbukti dua masjid yakni masjid Agung Baitul Makmur dan Masjid Mantingan yang dibangun ratusan tahun lalu masih memiliki fungsi seperti pertama kali dibangun, bahkan fungsinya kini bertambah sebagai sasaran peneliti studi sejarah perkembangan Islam di Pulau Jawa. Pada pertengahan Juni, (22/6) bimasislam mengunjungi dua masjid tersebut.
Masjid Agung Baitul Makmur
Masjid Agung Baitul Makmur Jepara terletak di sebelah selatan Alun-alun kota Jepara tepatnya Desa Kauman Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Posisinya sangat strategis karena hanya beberapa meter dari Kantor Pemerintah Kabupaten serta berada di jantung kota Jepara.
Dilansir dari berbagai sumber, Masjid ini di bangun pada masa Pangeran Arya Jepara. Pangeran Arya Jepara adalah anak angkat dari Ratu Kalinyamat. Bangunan masjid mengalami renovasi sebanyak tiga kali. Mulai dari tahun 1686, 1929, dan terakhir pada tahun 1989 untuk menyesuaikan dengan kebutuhan akan banyaknya jamaah.
Masjid ini mula mula dodiminasi dari bahan Kayu Jati, namun sering waktu beberapa bagian konstruksinya berubah menjadi dinding tembok layaknya masjid modern seperti saat ini. Meski masjid terlihat modern, namun unsur klasik masih lekat karena nuansa khas kayu jati masih terlihat dibeberapa bagian. Beberapa ukiran yang menghiasi masjid ini juga menambah suasana tempo doloe.
Ukirannyapun beragam ada yang bernuansakan bunga-bunga seperti ukiran asli Jepara, namun ada pula yang berbentuk khat atau tulisan arab yang dapat kita lihat dibagian pintu dan jendela.
Setiap hari, baik masyarakat Jepara maupun wisatawan ramai mengunjungi masjid ini. Khusus di hari jumat masjid ini dipenuhi ribuan jamaah yang didominasi pegawai negeri sipiil.
Masjid Mantingan
Selanjutnya adalah Masjid Mantingan, sebuah masjid tua yang berada di Desa Mantingan , Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Jawa tengah. Masjid ini konon didirikan pada masa Kesultanan Demak.
Masjid ini menjadi salah satu icon bersejarah di Jepara, terlebih di komplek masjid terdapat makam orang-orang penting di masa silam. Keberadaan Masjid dan Makam Mantingan pun kini menjadi obyek wisata sejarah dan religi nomer satu di Jepara.
Masjid Mantingan merupakan masjid kedua setelah Masjid Agung Demak, terletak 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara. Masjid ini dibangun pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 Masehi berdasarkan candrasangkala yang terukir pada mihrab Masjid Mantingan berbunyi “Rupa Brahmana Warna Sari”.
Pembangunan masjid ini berkait dengan anak R. Muhayat Syeh, sultan Aceh, yang bernama R. Toyib. Pada awalnya R. Toyib yang dilahirkan di Aceh ini menimba ilmu ke Tanah Suci dan Negeri Cina (Campa) untuk dakwah Islamiyah. Ia pergi ke Jawa (Jepara) dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono). Ratu ini adalah putri Sultan Trenggono, sultan Kerajaan Demak. Akhirnya dia mendapat gelar Sultan Hadlirin dan sekaligus dinobatkan sebagai adipati Jepara hingga wafat.
Masjid ini merupakan salah satu pusat aktivitas penyebaran agama Islam di pesisir utara Pulau Jawa dan merupakan masjid kedua setelah masjid Agung Demak. Masjid Mantingan sebagai salah satu konsep Masjid-Makam-Keraton, karena disanalah disemayamkan Sultan Hadlirin, pada tahun 1559.
Hingga kini, Masjid Mantingan masih menjadi masjid utama masyarakat sekitar. Meski berusia ratusan tahun, masjid ini Nampak begitu terawat. Masyarakat yang melaksanakan ibadah shalat juga ramai, bahkan di hari libur selalu dipenuhi wisatawan dari luar kota Jepara.
Untuk diketahui, mayoritas masyarakat Kabupaten Jepara adalah pemeluk agama Islam. Beberapa sumber menyebut angka 85% sisanya pemeluk agama lain.
Penulis: Syamsuddin
Editor: -
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



