, Bimas Islam -- Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag menyusun rencana aksi untuk mendukung Asta Program Prioritas (Asta Protas) Menteri Agama 2025-2029. Tiga program utama yang dijalankan adalah Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, Ekoteologi, serta Layanan Keagamaan Berdampak.
Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Cecep Khairul Anwar memaparkan rencana aksi penguatan KUA sebagai sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) terhadap potensi konflik sosial berbasis keagamaan. Target EWS menyasar 5.917 kepala KUA, 514 kepala kantor Kemenag kabupaten/kota, serta 34 kepala Kanwil Kemenag provinsi.
“Kami menyusun modul konseptual dan teknis implementasi bagi KUA, meningkatkan kapasitas pimpinan unit, serta memperkuat koordinasi dengan Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) dan Forkopimcam (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan),” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ditjen Bimas Islam 2025 di Auditorium HM Rasjidi, Kemenag RI, Jakarta, Kamis (20/3/2025).
Cecep menjelaskan, rencana aksi Ekoteologi diterapkan melalui pembangunan 160 Gedung KUA berbasis green building. Ia mengatakan, bangunan tersebut mengusung prinsip ramah lingkungan, efisiensi energi, dan daur ulang sumber daya. KUA juga akan dilengkapi dengan teknologi smart building, seperti sistem otomatisasi dan Internet of Things (IoT).
Sebanyak 154 pembangunan Gedung KUA Green Building telah disiapkan melalui kontrak bersyarat. “Kami membangun KUA yang mengadopsi panel surya, pencahayaan LED hemat energi, serta sistem pemanenan air wudu dan hujan,” jelas Cecep.
Sementara itu, layanan keagamaan berdampak dilakukan dengan memperkuat ketahanan keluarga melalui program Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin (Bimwin Catin), Belajar Rahasia Nikah (Berkah), Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), dan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN). Dikatakan Cecep, bimbingan ini diwajibkan bagi Catin sebagai syarat pencatatan nikah, sesuai amanat PMA Nomor 30 Tahun 2024.
Selain itu, program pembinaan keluarga seperti Sekolah Relasi Suami Istri (Serasi), Konseling, Mediasi, Pendampingan, dan Konsultasi (Kompak), serta Layanan Bersama untuk Ketahanan Keluarga Indonesia (Lestari) turut dijalankan. Pihaknya menargetkan 0,28% keluarga yang menikah dalam lima tahun terakhir mendapat bimbingan agar lebih siap menghadapi dinamika rumah tangga.
“Melalui rencana aksi ini, kami berupaya menjadikan KUA lebih dari sekadar tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga pusat layanan keagamaan yang berdampak luas bagi masyarakat,” tandas Cecep.
Wcp/Mr



